Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Tak Hanya Mental, Begini Dampak Fisik PTSD

Rabu 19 Jun 2019 06:42 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari

Ilustrasi Stres

Ilustrasi Stres

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Nyeri punggung hingga masalah pencernaan bisa jadi dampak fisik PTSD.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gangguan stres pascatrauma atau PTSD tak hanya dapat mempengaruhi kesehatan mental. Masalah kesehatan mental ini juga dapat memunculkan gejala pada kesehatan fisik penderitanya.

Psikiater Bessel Van Der Kolk mengungkapkan ada beberapa manifestasi fisik yang mungkin timbul akibat PTSD. Manifestasi fisik ini beragam dan mungkin berbeda-beda pada tiap individu.

"Manifestasi fisik ini bisa termasuk nyeri punggung dan nyeri leher, fibromyalgia, migrain, masalah pencernaan, kolon spastik, kelelahan kronis dan beberapa bentuk asma," lanjut Kolk seperti dilansir Huffington Post.

Psikiater mengungkapkan setidaknya ada lima cara PTSD dapat mempengaruhi fisik penderitanya. Berikut ini adalah kelima cara tersebut.

Adrenalin Lebih Tinggi
PTSD bisa dikaitkan dengan kecendrungan pelepasan adrenalin yang tinggi. Adrenalin merupakan hormon yang memproduksi tanda fisik dari stres dan rasa takut, seperti telapak tangan berkeringat, jantung berdegup kencang hingga rasa tak nyaman pada perut.

"Adrenalin ini meningkat karena sirkuit otak yang terlibat dalam pengaturan emosi belajar untuk mengaktifkan diri sebagai respon dari tanda terkait trauma dan mereka tak dapat melupakan ini meski ancaman sudah berlalu," tukas Ketua Psikiater Yale Medicine John Krystal.

Adrenalin pada dasarnya merupakan komponen penting dalam upaya pertahanan hidup manusia. Akan tetapi adrenalin berlebih yang dilepaskan dalam satu waktu ketika tidak dibutuhkan dapat memberi dampak kurang baik. Kondisi ini dapat menyulitkan dan mengganggu kemampuan seseorang untuk bisa berkegiatan dan beraktivitas secara normal.

Stres Fisik
Beberapa orang dengan PTSD mengalami masalah dalam mengatur hormon kortisol atau hormon stres. Beberapa pasien dengan PTSD kronis mengalami defisit dalam pelepasan kortisol. Kondisi ini menyebabkan organ-organ di dalam tubuh menjadi lebih rentan terhadap inflamasi.

Di sisi lain, beberapa penderita PTSD juga megalami peningkatan kadar sitokin. Kombinasi kedua kondisi ini dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan fisik terkait stres maupun PTSD.

Penyakit Kronis
Kecenderungan mengisolasi diri merupakan hal yang cukup umum ditemukan apda penderita PTSD. Ketika mengisolasi diri, penderita PTSD cenderung tidak melakukan banyak aktivitas fisik dan mengalihkan perhatian pada makanan atau minuman beralkohol.

Oleh karena itu, profesor di bidang psikiatri dan perilaku dari Stanford University Amit Etkin mengatakan penderita PTSD yang mengisolasi diri dapat mengalami kegemukan atau obesitas. Bila terus berlanjut, tak menutup kemungkinan mereka akan mengalami gangguan metabolik, diabetes maupun penyakit kronik lain.

"Itu dapat membuat tubuh Anda menua dengan jauh lebih cepat," terang Etkin.

Semakin sedikit aktivitas fisik yang dilakukan, semakin buruk dampaknya bagi penderita PTSD. Karena itu, Etkin seringkali menyarankan pasien PTSD agar mereka lebih memaksakan diri untuk tetap melakukan aktivitas fisik, walaupun hanya sekedar berjalan kaki ke suatu tempat.

Sulit Tidur
Apnea tidur merupakan salah satu bentuk gangguan tidur yang mungkin dialami oleh penderita PTSD. Apnea tidur merupakan suatu kondisi di mana saluran pernapasan atas menyempit ketika seseorang dalam kondisi tidur. Kondisi ini cukup sering ditemukan pada penderita PTSD yang memiliki masalah berat badan seperti obesitas.

Tak sedikit penderita PTSD yang juga sulit menjaga jadwal tidur mereka akibat insomnia. Namun sebagian besar penderita PTSD lebih banyak mengalami ganggaun tidur dibandingkan insomnia yang sesungguhnya. Artinya, mereka cenderung lebih merasa lelah meski sudah tidur namun tidak ada tanda-tanda abnormal pada aktivitas otak mereka.

"Insomnia seringkali muncul akibat kecemasan maupun kesedihan yang seringkali dirasakan penderita PTSD, maupun penderita depresi," ungkap Etkin.

Nyeri Otot dan Sendi
Nyeri merupakan keluhan yang cukup umum dirasakan penderita PTSD. Nyeri ini dapat muncul dalam berbagai bentuk mulai dari migrain hingga otot kaku.

Meski sering dialami penderita PTSD, keluhan nyeri seringkali tidak dilaporkan oleh penderita PTSD. Sebagian psikiater juga cenderung tidak bertanya mengenai keluhan nyeri pada pasien PTSD.

Pada sebagian penderita PTSD, nyeri kronis dapat mendorong mereka untuk mengalihkan diri ke hal-hal negatif. Beberapa contohnya adalah kebiasaan minum alkohol maupun penyalahgunaan obat-obat terlarang. Pengalihan diri ke hal-hal negatif ini dapat memberi dampak negatif bagi kesehatan fisik.

"Dan semua hal ini, seperti yang bisa Anda lihat, merupakan sebuah lingkaran setan," jelas Etkin.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA