Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Mencari Makanan Halal di Beijing, Sulitkah?

Kamis 06 Jun 2019 04:14 WIB

Red: Agung Sasongko

Pengunjung berpose di depan gerbang utama objek wisata Kota Terlarang, Beijing, beberapa saat setelah hujan salju, Kamis (14/2/2019) petang.

Pengunjung berpose di depan gerbang utama objek wisata Kota Terlarang, Beijing, beberapa saat setelah hujan salju, Kamis (14/2/2019) petang.

Foto: Antara/M Irfan Ilmie
khusus restoran yang menyediakan menu halal, mereka memasang logo halal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Salah satu pertanyaan saat bepergian ke luar negeri, terutama ke negara-negara yang penduduknya bukan Muslim, adalah soal makanan halal. Bagaimana cara mendapatkan makanan halal dan mengenali makanan halal di luar negeri amat penting bagi seorang Muslim. Seyogianya, seorang Muslim harus menjaga asupan apa saja yang masuk ke dalam tubuhnya adalah halal. Baik secara zat, maupun cara memperolehnya.

Jika kita menuju ke sebuah negara yang penduduk mayoritasnya bukan Muslim, rasa kehati-hatian memang harus ditingkatkan. Setidaknya, cobalah untuk mencari tahu terlebih dahulu bagaimana makanan halal yang ada di negara tersebut. Seperti saat Republika bertandang ke Xinjiang dan Beijing, Cina beberapa waktu lalu.

Saat di Xinjiang, kekhawatiran terhadap makanan halal tak terlalu mengemuka. Sebabnya, mayoritas penduduk di Xinjiang adalah Muslim. Cukup mudah menemukan restoran Muslim dan halal di sana. Hotel-hotel di Xinjiang pun juga menyediakan menu makanan halal bagi tamu-tamunya.

Namun, saat menuju Beijing, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan guna mencari makanan halal. Pertama, pastikan memilih hotel atau tempat penginapan yang menyediakan makanan halal. Republika menginap di Hotel Xinjiang Plaza Beijing, sebuah hotel yang bernuansakan etnik Xinjiang yang dominan Muslim. Restoran di hotel tersebut adalah restoran halal. Daging bakon, yang biasanya diolah dari daging babi disajikan dalam bentuk beef bacon, berasal dari daging sapi yang halal.

Di sekitar hotel pun terdapat restoran jalanan khas Xinjiang. Menunya seperti menu makanan Xinjiang yang halal. Menu masakan Xinjiang lekat dengan olahan daging kambing dan aneka roti gandum.

Jika berjalan-jalan dan ingin mampir di sebuah restoran di Beijing, perhatikan label restorannya. Jika di Xinjiang, jarang sekali didapati restoran yang memasang label halal di etalasenya. Sebabnya, masakan mereka mayoritas halal. Sementara di Beijing, khusus restoran yang menyediakan menu halal, mereka memasang logo dan sertifikat halal di etalasenya.

Salah satu restoran halal yang Republika datangi di Beijing adalah restoran seafood. Menyajikan makanan laut yang secara zat halal memang menjadi pilihan aman. Dengan melihat sertifikat halal di depan restoran, Republika semakin yakin segala bumbu yang digunakan juga halal.

Selain aneka makanan laut, restoran halal tersebut juga menyajikan aneka sayuran. Jarang didapat berbagai olahan daging ayam, sapi atau kambing yang mudah ditemukan di Xinjiang.

Jika ingin lebih mudah, gunakanlah aplikasi pencari restoran halal. Republika menggunakan salah satu aplikasi, Muslim Pro, untuk mencari restoran halal. Aplikasi ini bisa digunakan untuk ponsel dengan sistem operasi Android maupun iOS. Penggunaannya cukup mudah. Dengan menggunakan internet, restoran yang bersertifikat halal langsung terlacak di sekitar pengguna. Lengkap dengan alamatnya. Selain bisa mencari tempat makan halal, aplikasi ini juga berguna untuk mengetahui waktu shalat dan arah kiblat di seluruh dunia.

Selain aplikasi, situs www.zabihah.com juga bisa digunakan untuk mencari tempat makanan halal di berbagai belahan dunia. Tinggal memilih negara dan kota mana yang ingin dituju. Dalam situs ini, juga diterangkan jenis restoran halal yang terdaftar. Apakah yang dicari restoran Cina, Pakistan, Turki, atau model Timur Tengah, semua keterangan beserta alamatnya tertera di situs tersebut.

Jika bepergian di Beijing dengan tour guide, biasakan memesan makanan dengan menu tanpa babi. Biasanya, tour guide sudah mengerti dan akan mencarikan menu alternatif yang tidak mengandung bahan babi. Meski juga tak menjamin sepenuhnya menu di restoran tersebut semuanya halal.

Menguasai bahasa Mandarin juga menjadi keuntungan tersendiri. Di Beijing, tak banyak pedagang yang bisa berbahasa Inggris. Dengan lancar berbahasa Mandarin, seseorang bisa langsung mengonfirmasi ke penjual apakah menu makanannya baik untuk Muslim dan halal

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA