Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Nikotin di Rokok Elektrik Tingkatkan Risiko Bronkitis Kronis

Rabu 12 Jun 2019 10:44 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Indira Rezkisari

Rokok elektrik atau vape.

Rokok elektrik atau vape.

Foto: Republika/ Wihdan
Nikotin rokok elektrik akibatkan lendir lebih kental dan lengket.

REPUBLIKA.CO.ID, LAWRENCE -- Rokok elektrik yang kerap menjadi alternatif rokok konvensional menyimpan bahaya yang tidak main-main. Studi terbaru mengungkap kandungan nikotin dalam okok elektrik meningkatkan risiko bronkitis kronis.

Para peneliti memaparkan hal itu dalam riset yang diterbitkan American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. Satu kali sesi isapan rokok elektrik alias vape memberikan lebih banyak nikotin di saluran pernapasan daripada sebatang rokok.

"Pertanyaannya adalah apakah vape yang mengandung nikotin memiliki efek negatif pada kemampuan untuk membersihkan sekresi dari saluran pernapasan yang mirip dengan asap tembakau?" ujar penulis studi, Matthias Salathe.

Profesor di Universitas Kansas itu menjelaskan temuan penelitian bahwa nikotin dalam vape mengganggu frekuensi detak silia dehidrasi cairan saluran napas. Akibatnya, lendir lebih kental dan lengket.

Perubahan itu membuat bronkus, jalur utama ke paru-paru, lebih sulit menangkal infeksi dan cedera. Para peneliti mengamati pula bahwa nikotin dalam vape mengakibatkan penurunan kemampuan untuk memindahkan lendir atau dahak di permukaan.

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah disfungsi mukosiliar. Kondisi demikian sering menjadi penyebab dari banyak penyakit paru-paru, termasuk asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan fibrosis kistik.

Untuk mendapatkan hasil tersebut, para peneliti menguji efek uap rokok elektrik yang mengandung nikotin pada dua spesies. Selain pada manusia, ada sekelompok domba yang diamati fungsi mukosiliar jalan napas dalam sel-sel epitel bronkialnya.

Kesimpulannya, nikotin sama-sama menghasilkan efek negatif pada manusia maupun domba. Zat itu juga terbukti berbahaya bagi fauna yang saluran udaranya serupa dengan manusia, dikutip dari laman Times of India.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA