Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Sisi Negatif Penggunaan Aplikasi Pemantau Kesehatan

Senin 10 Jun 2019 10:50 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Reiny Dwinanda

Aplikasi pemantau kesehatan. (Ilustrasi)

Aplikasi pemantau kesehatan. (Ilustrasi)

Foto: Dok UGM
Aplikasi pemantau kesehatan bisa mendatangkan kecemasan pada penggunanya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alat pemantau kesehatan sering digunakan banyak orang belakangan ini. Untuk memanfaatkan fungsinya, orang tidak memerlukan alat khusus. Mereka tinggal mengunduh aplikasi pemantauan kesehatan di ponsel pintarnya.

Baca Juga

Alat pelacak kesehatan ini tidak hanya memantau aktivitas fisik yang dilakukan penggunanya. Pengaturan makan, istirahat, hingga waktu tidur pun bisa dipantau dengan mudah. Lantas, hasil dari gabungan itu semua dapat dijadikan rujukan kebugaran bagi penggunanya.

Tapi, di balik iming-iming manfaat untuk memantau kebugaran tubuh, alat tersebut memiliki sisi gelap yang perlu diperhatikan. Pemantau kesehatan ini bisa mendorong orang terobsesi dengan kesehatan hingga menimbulkan kecemasan.

Psikolog yang berkantor di Texas, Amerika Serikat, Dr George Zgourides mengatakan, data tidak terbatas ini dapat berkontribusi pada budaya kecemasan kesehatan. Alat bantu itu membuat orang-orang terlalu khawatir tentang masalah kesehatan, sampai-sampai bisa mengganggu kesehatan mental, pekerjaan, dan hubungan.

"Sekarang Anda dapat menghitung setiap kalori dan setiap langkah yang Anda ambil, orang-orang yang mungkin memiliki kecenderungan obsesi atau fokus pada angka, ini memberi perilaku makan dengan cara yang tidak selalu membantu," kata dokter pengobatan keluarga dan penulis buku Stop Stop Worrying About Your Health, dikutip dari Time, Ahad (9/6).

Peneliti di Duke University di North Carolina pada tahun 2015 menemukan pelacak aktivitas dapat mengurangi kenikmatan apa pun ketika terus hitung. Bahkan, menggunakan alat pelacak ini membuat orang melakukan lebih sedikit aktivitas ketika alat tidak aktif.

Sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam jurnal Eating Behaviors menemukan hubungan antara penggunaan penghitungan kalori atau alat pelacak kebugaran dan gejala gangguan makan di kalangan mahasiswa. Sementara itu, survei tahun 2016 tentang pengguna Fitbit pada wanita menemukan, hampir 60 persen responden merasa hari-hari mereka dikendalikan oleh perangkat dan 30 persen mengatakan gawao itu adalah musuh yang membuat mereka merasa bersalah.

Ketika pelacak ini bertambah fitur dan lebih canggih, tekanan balik pun dirasakan bagi penggunanya baik di sisi kesehatan mental maupun privasi konsumen. Kondisi ini mendorong perusahaan memanfaatkannya dengan menawarkan produk yang memberikan alternatif untuk memberikan data lebih baik.

Salah satu aplikasi pemantau adalah Shapa. Skala yang dibuat oleh startup ini mencoba untuk tidak menunjukan berat badan seseorang, namun ia mengumpulkan data penimbangan dalam tiga pekan dan menggunakan sistem kode warna.

Kode warna tersebut menjadi tanda untuk memberi tahu pengguna jika mereka bertambah berat badan, mempertahankan bobot tetap, atau turun. Co-founder dan ilmuwan perilaku Dan Ariely mengatakan, idenya adalah mengalihkan fokus dari perubahan bobot tambahan dan menuju pola yang lebih bermakna.

“Berat badan saya bisa naik dan turun, tergantung pada saat saya pergi ke kamar mandi dan berapa banyak garam yang saya asup dan kapan saya pipis terakhir dan berapa banyak saya mengalami dehidrasi,” kata Ariely

Bagi Ariely, memberi orang informasi tentang bobot tubuh yang naik dan turun dalam rentang tersebut akan membingungkan dan menurunkan motivasi. Cara memperlihatkan angka, tidak membantu memahami hubungan antara sebab dan akibat.

Sementara itu, aplikasi pemantau makanan YouAte melakukan hal serupa untuk diet. Seperti banyak aplikasi nutrisi, YouAte memungkinkan pengguna untuk mencatat makanan dan camilan.

Alih-alih menghitung jumlah kalori, aplikasi meminta pengguna untuk mengategorikan pilihan makanan mereka sebagai "di jalur" atau "di luar jalur". Pilihan itu membantu pengguna merasa bahwa idealnya mereka perlu menumbuhkan pola makan yang tepat.

 

"Dalam setiap keadaan, saya akan merekomendasikan penghitungan kalori. Pada akhirnya, tujuannya adalah untuk tidak perlu menghitung kalori sama sekali, namun untuk dapat mengikuti isyarat internal untuk bimbingan," kata spesialis diet terdaftar dan gangguan makan yang terdaftar di Texas, Amerika Serikat, Jessica Setnick.

Setnick mengatakan, gangguan makan sudah ada jauh sebelum Fitbits dan aplikasi diet berkembang. Namun, perkembangan teknologi tersebut memungkinkan dapat memperburuk masalah mendasar.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA