Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Bisakah Masker Bedah Cegah Penyebaran Flu? Ini Penjelasannya

Jumat 24 May 2019 18:15 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Christiyaningsih

Seorang warga mengenakan masker. (Ilustrasi)

Seorang warga mengenakan masker. (Ilustrasi)

Foto: Antara/FB Anggoro
Tidak semua masker bedah berfungsi mencegah virus flu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat sedang flu, kadang seseorang menggunakan masker agar penyaktnya tak menular ke orang lain. Praktik penggunaan masker ternyata dimulai di Jepang sejak awal abad ke-20 tepatnya ketika wabah influenza menewaskan antara 20 hingga 40 juta orang. Kini masker sekarang sebagai bagian dari etiket negara.

Selama wabah flu di Cina dan Jepang, ribuan orang memakai masker wajah untuk mencegah penyebaran infeksi. Kini ancaman wabah flu yang mematikan juga menyerang Australia. Otoritas Kesehatan Australia melaporkan lebih dari 40 ribu kasus influenza yang dikonfirmasi laboratorium sepanjang tahun ini.

Bahkan tiga anak kecil dan 23 lansia di panti jombo telah meninggal akibat wabah flu di Victoria, Australia. Sementara di Queensland, sebanyak 25 orang meninggal dan di Australia Selatan 17 orang juga meninggal.

Lalu apakah betul masker efektif mencegah flu? Kepala Departemen Mikrobiologi Universitas Monash Stephen Turner mengatakan masker dapat membantu melindungi seseorang dari wabah penyakit. Namun menurut dia tidak semua masker bedah berfungsi mencegah virus flu.

"Banyak masker bedah yang digunakan orang tidak dirancang dengan baik untuk menyaring partikel yang sangat kecil sehingga jika virus flu melayang di sekitarnya, itu berpotensi melewatinya," kata Turner dilansir Sydney Morning Herald, Jumat (24/5) 

Namun dia menambahkan masker bedah dapat membatasi penyebaran influenza jika misalnya seseorang yang terkena virus memakai topeng ketika bersin di tempat umum. Dalam sebuah studi pada 2013 di Amerika, para peneliti menghitung jumlah partikel virus di udara di sekitar pasien dengan flu.

Mereka menemukan bahwa masker bedah mengurangi pernafasan tetesan virus besar secara signifikan. Akan tetapi masker itu kurang efektif terhadap tetesan virus halus yang dapat tetap tergantung di udara lebih lama dan karena itu lebih menular.

Kemudian apakah mengonsumsi vitamin C bisa mencegah flu? Kepala virologi Doherty Institute Associate Professor Aeron Hurt mengungkapkan tidak ada cukup bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung hal tersebut. Ia pernah melakukan uji coba dengan menggunakan vitamin C, elderberry, bawang putih, atau sup ayam namun hasilnya belum mampu menangkal wabah flu.

"Kami tidak memiliki penelitian untuk mengevaluasi apakah hal-hal seperti ini cukup berhasil. Tapi tidak diragukan lagi bugar dan sehat, memiliki kebersihan yang baik, mencuci tangan secara teratur, dan memiliki gaya hidup sehat yang melibatkan makan dengan baik memang membantu respons kekebalan tubuh," kata dia.

Menurut Hurt, cara paling efektif untuk mencegah flu adalah mendapatkan vaksinasi. Vaksin bekerja dengan cara menghasilkan antibodi yang bisa menangkal infeksi virus.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA