Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Menonton Berita Kerusuhan Sebabkan Kecemasan dan Panik

Kamis 23 Mei 2019 13:19 WIB

Red: Indira Rezkisari

Massa melakukan penyerangan terhadap polisi saat terjadi kerusuhan di Jalan Brigjen Katamso, Slipi, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Massa melakukan penyerangan terhadap polisi saat terjadi kerusuhan di Jalan Brigjen Katamso, Slipi, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Kecemasan setelah menonton berita kerusuhan bisa terjadi pada siapapun.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Pemberitaan seputar aksi massa 22 Mei di Jakarta yang berujung rusuh bisa menyebabkan seseorang cemas dan tegang. Menurut Nena Mawar Sari, S.Psi.,Psikolog Cht, Psikolog Klinis & Hipnoterapis di RSUD Wangaya Kota Denpasar dan RS Balimed Denpasar, Kamis (23/5), keadaan yang penuh ketegangan, emosional, suara teriakan, tembakan dan situasi mencekam, serta tidak jarang juga beredar foto-foto dan video orang penuh darah yang mungkin dengan sengaja ataupun tidak sengaja bisa berbahaya bagi kondisi psikologis.

Untuk seseorang yang telah didiagnosis gangguan cemas atau gangguan panik, tentu hal ini dapat memicu dan bahkan dapat memperburuk kondisi psikisnya. Kecemasan setelah menonton tayangan kerusuhan juga dapat terjadi pada siapapun.

Berita yang ada memang akan tayang 24 jam dan terus-menerus, belum lagi konten-konten yang beredar di media sosial yang belum tentu kebenarannya alias hoaks. Ia menegaskan tetapi kita bisa mengatur diri untuk tidak menonton tayangan tersebut secara terus-menerus dan tidak dengan mudah bereaksi dengan begitu saja memercayai semua berita yang ditonton hingga terbawa emosi.

Lalu, mengapa ketika seseorang terlalu fokus dan mudah terbawa emosi dengan menonton tayangan kerusuhan atau terlalu sering mendapat foto dan video yang berisi unsur provokasi melalui media sosial menjadi cemas berlebih dan gangguan panik?

Hal itu, karena ketika seseorang melihat tayangan yang berisi kekerasan, teriakan, suara tembakan, sirene, dan semacamnya. Maka persepsinya secara visual adalah hal tersebut bisa terjadi pada dirinya atau keluarganya. Ini dapat dialami pada mereka dengan gangguan kecemasan menyeluruh, atau trauma, karena dulu penyebab gangguan panik dan kecemasannya adalah hal yang sama persis seperti yang telah ditonton.

Kebanyakan orang dengan serangan panik mengalami beberapa gejala berikut jantung berdetak cepat, merasa lemah, pingsan, atau pusing. Lalu merasa kesemutan atau mati rasa di tangan dan jari-jari.

Bisa juga mengalami rasa teror, atau takut akan datang kematian, merasa menggigil berkeringat atau memiliki nyeri dada, hingga kesulitan bernapas dan merasa kehilangan kontrol.

Berikut hal hal yang dapat dilakukanmengalami gangguan cemas atau gangguan panik, akibat berita kerusuhan:

1. Batasi durasi menonton televisi/media sosial.
2. Jangan terlalu mudah percaya dengan konten konten yang belum tentu kebenarannya.
3. Yakinkan diri jika situasi akan segera kondusif dan aman kembali.
4. Lakukan teknik relaksasi dengan mengatur napas jika mengalami kepanikan dan kesemasan berlebih.
5. Lakukan aktivitas seperti biasanya.
6. Hubungi tenaga kesehatan dibidang kesehatan mental jika gangguan cemas dan panik belum juga dapat diatasi sendiri.





Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA