Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Studi Baru Ungkap Alasan Lain Hindari Makanan Olahan

Senin 20 May 2019 13:06 WIB

Rep: Noer Qomariah K/ Red: Indira Rezkisari

Makanan cepat saji atau junk food.

Makanan cepat saji atau junk food.

Foto: pixabay
Makanan olahan yang minim serat menyebabkan seseorang makan lebih banyak.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON DC -- Junk food seperti keripik, piza buatan industri dan minuman manis harus dihindari karena kandungan kalorinya yang tinggi dan menyebabkan penambahan berat badan. Namun, apakah itu satu-satunya alasan tidak boleh mengonsumsi junk food?

Baca Juga

Percobaan baru yang penting dari Intitut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH) menunjukkan ada banyak hal dibanding masalah kalori saja. Penelitian telah menemukan hubungan antara junk food dan penambahan berat badan, tetapi hubungan ini belum pernah diselidiki dengan uji coba terawasi secara acak (RCT).

Dalam RCT NIH, 20 orang dewasa berusia sekitar 30 tahun secara acak ditugaskan untuk diet makanan ultra olahan atau diet makanan yang tidak diproses. Keduanya dimakan sebagai tiga kali makan plus camilan sepanjang hari.

Peserta diperbolehkan makan sebanyak yang mereka inginkan. Setelah dua pekan dalam salah satu diet, mereka beralih ke yang lain selama dua pekan. Jenis studi persilangan ini meningkatkan keandalan hasil karena setiap orang mengambil bagian dalam kedua kelompok penelitian.

Seperti yang dilansir dari Science Alert, Senin (20/5), studi ini menemukan rata-rata partisipan makan 500 kalori lebih banyak per hari ketika mengonsumsi diet makanan olahan, dibandingkan dengan makan diet makanan yang tidak proses. Pada diet makanan olahan, berat badan mereka bertambah hampir satu kilogram.

Meskipun makanan olahan bisa sangat membuat ketagihan, para peserta melaporkan menemukan dua diet yang sama-sama lezat, tanpa sadar memiliki nafsu makan yang lebih besar untuk makanan olahan daripada makanan yang tidak diproses.

Petunjuk penting mengapa makanan olahan menyebabkan konsumsi kalori yang lebih besar adalah partisipan makan makanan olahan lebih cepat mengonsumsi lebih banyak kalori per menit. Ini dapat menyebabkan asupan kalori berlebih sebelum sinyal tubuh untuk kenyang.

Faktor kenyang yang penting dalam makanan yang tidak diproses adalah serat makanan. Sebagian besar makanan olahan mengandung sedikit serat dan karenanya lebih mudah untuk makan dengan cepat.

Mengantisipasi hal ini, para peneliti NIH menyamakan kandungan serat dari dua diet mereka dengan menambahkan suplemen serat ke dalam makanan dan minuman olahan. Namun, suplemen serat tidak sama dengan serat dalam makanan yang tidak diproses.

Serat dalam makanan yang tidak diproses adalah bagian integral dari struktur makanan aatu matriks makanan. Matriks makanan yang utuh memperlambat seberapa cepat mengkonsumsi kalori. Sebagai contoh, seseorang membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk mengunyah jeruk utuh daripada menelan kalori setara dengan jus jeruk.

Pesan menarik yang muncul dan penelitian lain tampaknya untuk mengatur asupan kalori, harus mempertahankan struktur makanan, seperti matriks makanan alami dari makanan yang tidak diproses. Ini mengharuskan untuk makan lebih lambat, memberikan waktu bagi mekanisme rasa kenyang tubuh diaktifkan sebelum makan terlalu banyak.

Mekanisme ini tidak beroperasi dengan makanan olahan karena matriks makanan hilang selama pembuatan. Menemukan waktu untuk makan makanan yang tidak proses yang dikonsumsi perlahan bisa menjadi tantangan.

Tetapi pentingnya waktu makan adalah pendekatan yang dipertahankan dengan kuat di beberapa negara, seperti Prancis. Yakni memastikan cara makan lebih santai dan menyenangkan. Itu juga bisa menjadi penangkal kenaikan beart badan yang disebabkan makanan olahan, dilansir Science Alert.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA