Wednesday, 17 Ramadhan 1440 / 22 May 2019

Wednesday, 17 Ramadhan 1440 / 22 May 2019

Makan Saat Stres Picu Berat Badan Naik

Jumat 26 Apr 2019 17:00 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Christiyaningsih

Makan Pizza. Ilustrasi

Makan Pizza. Ilustrasi

Foto: Express.co.uk
Orang yang sedang stres cenderung mencari makanan tinggi gula dan lemak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Stres bisa membebani kesehatan fisik dan psikologi. Stres juga bisa menyebabkan masalah-masalah seperti migrain, pencernaan, hingga kecemasan. Bagi orang yang tidak mampu secara produktif mengatasi stres, mereka mungkin mencari pelampiasan dengan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak.

Makanan itu dianggap bisa menenangkan di kala stres. Padahal menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Cell Metabolism, makan makanan tinggi gula dan lemak ketika merasa stres makin meningkatkan risiko naiknya berat badan yang tidak sehat.

Baca Juga

Studi menemukan mengonsumsi makanan yang menenangkan ketika stres dapat menyebabkan lebih banyak kenaikan berat badan daripada makan saat tidak sedang stres. Tim peneliti yang dipimpin Herbert Herzog, Kepala Laboratorium Gangguan Makan di Garvan Institute of Medical Research, melihat bagaimana stres memengaruhi kenaikan berat badan tikus pada diet tinggi kalori.

Mereka menemukan tikus-tikus di lingkungan stres mengalami lebih banyak berat badan pada pola makan yang sama daripada tikus-tikus dalam kelompok yang tidak stres. Tim peneliti mencoba menelusuri lebih jauh penyebab kenaikan berat badan itu.

Setelah menyelidiki lebih lanjut, ilmuwan menemukan sebuah molekul yang disebut NPY yang berkaitan dengan makan di bawah tekanan stres. Ketika produksinya dimatikan, kenaikan berat badan menurun. "Meskipun kami tidak dapat menekan produksi NPY, kami mungkin dapat membatasi hasilnya dengan mengurangi stres dan menghindari makanan olahan," kata peneliti dilansir Mind Body Green.

Ternyata produksi NPY terkait dengan kadar insulin. Tikus yang makan di bawah tekanan memiliki kadar insulin yang lebih tinggi daripada mereka yang berada di lingkungan bebas stres. Hal itu meningkatkan level insulin dan level NPY yang memicu lebih banyak stres dan penambahan berat badan.

"Temuan kami menunjukkan lingkaran setan, di mana tingkat insulin kronis yang tinggi didorong oleh stress dan diet tinggi kalori mendorong semakin banyak makan," jelas Herzog.

Alhasil penelitian benar-benar menguatkan gagasan makan junk food dan berkalori tinggi di bawah tekanan adalah hal yang sangat buruk dan memicu obesitas. Kenny Chi Kin Ip selaku penulis utama studi itu menyatakan stres kronis dikombinasikan dengan makan makanan olahan adalah pendorong utama kenaikan berat badan yang tidak sehat.

"Jadi fokus pada mengurangi stres Anda dan mengurangi asupan makanan olahan terutama ketika stres dapat membantu mengurangi risiko ini," tuturnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA