Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Pasien Kanker Stadium Lanjut Tergoda Terapi Agresif

Rabu 24 Apr 2019 06:42 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Ruang operasi. (Ilustrasi)

Ruang operasi. (Ilustrasi)

Foto: AP/Virginia Mayo
Terapi agresif padahal belum tentu berguna bagi pasien kanker stadium lanjut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terdiagnosis dengan penyakit kanker stadium lanjut mungkin akan terasa seperti mimpi buruk. Di tengah keputusasaan, tak sedikit pasien kanker stadium lanjut yang rela melakukan apapun demi memperpanjang harapan hidup. Salah satunya adalah melakukan terapi-terapi yang sebenarnya tidak berguna.

Hal ini terungkap dalam studi terbaru yang melibatkan lebih dari 100 ribu data pasien kanker di Amerika Serikat. Studi tersebut mengungkapkan bahwa ada cukup banyak pasien kanker stadium lanjut yang memilih untuk melakukan terapi intervensi agresif dan cenderung mahal. Padahal, terapi-terapi tersebut belum benar-benar terbukti secara ilmiah dapat memberikan manfaat untuk kondisi mereka.

Pada pasien yang terdiagnosis dengan kanker stadium lanjut dan harapan hidup yang singkat, penyusunan rencana perawatan bisa menjadi sangat rumit. Apalagi, penyusunan rencana perawatan ini biasanya melibatkan banyak pihak seperti dokter, pasien dan keluarga atau orang-orang terdekat pasien.

"Meskipun ada beberapa panduan untuk mempersingkat proses pembuatan keputusan, upaya yang lebih konkret dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi pasien-pasien ini," jelas Dr Helmneh Sineshaw dari American Cancer Society seperti dilansir Health24.

Hal ini tercermin pada temuan studi terbaru yang dilakukan oleh Sineshaw dan tim peneliti. Berdasarkan data dari US National Cancer Data Base, sekitar 73 persen pasien kanker tidak lagi menjalani terapi aktif di bulan terakhir kehidupan mereka. Sedangkan pasien-pasien lain yang menjalani terapi cenderung memilih terapi yang agresif dan mahal meski terapi tersebut belum benar-benar terbukti bermanfaat untuk pasien kanker stadium lanjut.

Sebagai contoh, sekitar kurang dari satu persen pasien kanker pankreas stadium lanjut memilih untuk menjalani operasi. Ada lebih dari 28 persen pasien kanker kolon stadium lanjut yang juga memilih operasi.

Lebih dari satu persen pasien pankreas stadium lanjut memilih radiasi di minggu-minggu terakhir kehidupan mereka. Hampir 19 persen pasien kanker paru stadium lanjut memilih jalan yang sama.

Sineshaw mengatakan terapi yang langsung menyasar kanker seperti terapi radiasi terkadang memang dibutuhkan dan penting bagi pasien stadium lanjut. Alasannya, terapi ini dapat meringankan nyeri dan meminimalisasi pendarahan berat.

Tim peneliti menilai perawatan paliatif mungkin perlu lebih dipertimbangkan untuk pasien kanker stadium lanjut dibandingkan perawatan yang agresif. Perawatan paliatif merupakan perawatan yang bertujuan untuk meringankan gejala maupun stres yang dirasakan pasien, bukan bertujuan menyembuhkan.

Meski begitu, tim peneliti melihat sebagian pasien sulit menerima masukan dokter ketika dilarang untuk menjalani terapi tertentu yang belum terbukti bermanfaat bagi kondisi mereka. Pada akhirnya, pasien-pasien tersebut tetap memilih terapi agresif dan mahal yang secara ilmiah belum memiliki cukup bukti dapat membawa manfaat bagi mereka.

"Bisa dimengerti ketika sebagian pasien akan sulit menerima rekomendasi atau konseling dari petugas rumah sakit, ahli agam,a atau tenaga kesehatan mental profesional," jelas Sineshaw.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA