Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Studi: Perubahan Iklim Bisa Pengaruhi Fertilitas

Selasa 23 Apr 2019 11:07 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Christiyaningsih

Hubungan Suami Istri (Ilustrasi)

Hubungan Suami Istri (Ilustrasi)

Foto: Google
Studi yang terbit di Journal of Evolutionary Biology mengungkap efek perubahan iklim

REPUBLIKA.CO.ID, LINCOLN -- Infertilitas atau ketidaksuburan bisa dialami lelaki maupun perempuan. Secara alami, kesuburan pada perempuan cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Sederet faktor seperti gaya hidup juga memengaruhi ketidaksuburan pria.

Akan tetapi menurut studi terkini ada sesuatu yang lebih kompleks yang sangat mungkin memengaruhi infertilitas. Penelitian yang terbit dalam Journal of Evolutionary Biology itu mengungkap perubahan iklim berdampak pada kesuburan.

Lewat eksperimen, terungkap spesies hewan tertentu mengalami kesulitan bereproduksi pada temperatur yang berangsur-angsur berubah ekstrem. Tim riset melakukan eksperimen dengan ngengat jantan dan betina.

Para ngengat ditempatkan pada kondisi suhu berbeda-beda sampai tiba saatnya mereka kawin. Semakin tinggi suhu, sperma dari ngengat jantan semakin tidak efektif untuk pembuahan. Lingkungan yang panas juga membuat pasangan ngengat enggan bereproduksi.

"Ketika mengalami tekanan dengan suhu ruangan yang panas, ngengat jantan menjadi tidak subur sebelum melakukan hubungan reproduksi dengan ngengat betina," kata penulis studi, Graziella Iossa, dari Universitas Lincoln, Inggris.

Studi menawarkan pandangan menarik mengenai kompleksitas masalah kesuburan. Meskipun, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi hubungan antara infertilitas pria dengan kenaikan suhu akibat perubahan iklim.

Riset terhadap ngengat tidak bisa serta-merta disamakan dengan kondisi pada manusia. Lagipula, berbagai teknologi memungkinkan kemewahan bersantai di apartemen berpendingin ruangan saat cuaca terlalu panas.

Studi lain pada 2018 mengungkap suhu tinggi memiliki efek negatif signifikan terhadap kesuburan dan tingkat kelahiran manusia. Penelitian menganalisis data kelahiran selama 80 tahun di Amerika Serikat.

Agustus dan September, sembilan bulan setelah saat-saat terdingin di negara tersebut, menjadi dua bulan dengan tingkat kelahiran terbanyak. Berbanding terbalik dengan sembilan bulan setelah rentang waktu bercuaca panas.

"Sembilan bulan setelah gelombang panas pada bulan Agustus, yang jatuh pada Mei tahun berikutnya, tercatat angka kelahiran yang jauh lebih sedikit," kata peneliti, ekonom studi lingkungan Alan Barreca dikutip dari Mind Body Green.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA