Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Tirai Pemisah di RS, Barang Penuh Bakteri Berbahaya

Senin 15 Apr 2019 09:22 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari

Tirai pemisah pasien di rumah sakit.

Tirai pemisah pasien di rumah sakit.

Foto: Flickr
Tirai pemisah di RS biasanya dibersihkan beberapa bulan sekali.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Ketika pergi ke pusat kesehatan, kita sudah biasa melihat tirai-tirai penyekat untuk membuat garis privasi antar satu area dengan area lain di satu ruangan. Ternyata, studi baru menemukan, tirai privasi itu sangat jarang dibersihkan. Sehingga mungkin terkontaminasi oleh serangga yang resistan terhadap obat mematikan.

"Patogen pada tirai privasi ini seringkali bertahan dan memiliki potensi untuk dipindahkan ke permukaan dan pasien lain," kata rekan penulis Lona Mody, dikutip dari Malay Mail, Senin (15/4).

Konsentrasi bakteri yang ditemukan tim peneliti di tirai lebih tinggi daripada di atas meja samping tempat tidur. Namun, bakteri di bagian tersebut masih kurang dari kursi toilet, bedrails, dan remot TV.

Lebih dari seperlima dari 1.500 sampel di enam fasilitas perawatan pasca-akut Amerika Serikat dipenuhi dengan satu atau lebih bakteri berbahaya. Bakteri ini termasuk bakteri yang biasa ada di rumah sakit, yaitu
methicillin-resistantstaphylococcus aureus atau MRSA.

Hampir 20 ribu kematian terkait MRSA terjadi di Amerika pada tahun 2017. Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Amerika, sebagian besar dari mereka berasal infeksi yang didapat di rumah sakit.

"Karena tirai privasi digunakan di seluruh dunia, ini adalah masalah global," ujar dokter dan peneliti untuk Pusat Medis Universitas Michigan.

Perbandingan bakteri yang ditemukan pada pasien dan tirai menunjukkan keduanya sering terkontaminasi dengan strain yang sama. Namun, Mody menyatakan, dalam kasus ini masih kemungkinan pindah dari pasien ke tirai.

Meskipun ada peningkatan dalam kebersihan, itu tidak memberikan peluang lebih. Sebab, rumah sakit dibanjiri dengan antibiotik yang dapat menjadi inkubator dari bakteri yang resistan terhadap obat, sehingg bermutasi untuk bertahan hidup dari obat yang dirancang untuk membasmi mereka.

Sementara itu, pasien rawat inap dengan sistem kekebalan yang lemah dan luka terbuka setelah operasi sangat rentan terhadap serangan. Biasanya tirai ini terbuat dari plastik atau katun, gorden yang memisahkan tempat tidur atau mengelilingi mereka di kamar pribadi sangat jarang dibersihkan.

"Kebijakan rumah sakit sangat bervariasi, namun, biasanya termasuk mengubah tirai privasi setiap enam bulan atau ketika terlihat kotor," kata Mody.

Penelitian sebelumnya telah memeriksa kapasitas untuk mempertahankan bakteri. Namun, untuk pertama studi yang disampaikan dalam Kongres Eropa Mikrobiologi Klinik & Penyakit Menular di Amsterdam pada 13-16 April ini, melihat pengaturan pasca-akut.

Para pasien di fasilitas perawatan biasanya dirawat di rumah sakit rata-rata sekitar 22 hari. Sampel bakteri dari 625 kamar diambil pada saat masuk, dan secara berkala setelah itu hingga enam bulan, dengan asumsi pasien masih di lokasi.

Sebanyak 22 persen sampel tirai dites positif untuk bakteri multi-obat, mulai dari 12 hingga 29 persen, tergantung pada fasilitas. Persentase gorden yang terinfeksi bakteri berbeda berkisar dari lima persen untuk MRSA, hingga enam persen untuk resistant gram-negative bacilli (R-GNB), dan 14 persen untuk vancomycin-resistant enterococci (VRE) yang semuanya itu berpotensi mematikan.

"Ada peningkatan pengakuan lingkungan rumah sakit memainkan peran penting dalam penularan patogen. Tirai privasi sering disentuh dengan tangan kotor setelah interaksi pasien. Mereka sulit disinfektan dan dibersihkan," kata Mody.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA