Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Gangguan Makan Juga Bisa Dialami oleh Orang Berbobot Normal

Selasa 19 Mar 2019 00:55 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah / Red: Reiny Dwinanda

Orang dengan gangguan perilaku makan tak selalu memiliki tubuh yang kurus. (Ilustrasi)

Orang dengan gangguan perilaku makan tak selalu memiliki tubuh yang kurus. (Ilustrasi)

Foto: flickr
Gangguan makan dulu identik dengan orang kurus.

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -– Selama ini, gangguan perilaku makan selalu identik terjadi dengan orang yang bertubuh kurus. Namun, belum lama ini, peneliti di Australia menemukan bahwa penderita kelainan makan lebih cenderung terjadi pada remaja dengan berat badan normal atau kelebihan berat badan.

Penelitian University of Melbourne menyingkap fakta bahwa sepertiga dari remaja yang dirawat di rumah sakit untuk anoreksia antara 2005 dan 2013 bobotnya tidak pula kurang. Mereka menunjukkan semua gejala anoreksia, kecuali kekurangan berat badan.

"Apa yang kami lihat sekarang adalah bahwa Anda dapat memiliki berat badan yang sehat, tetapi menjadi sama sakitnya dengan seseorang dengan anoreksia nervosa yang khas, termasuk memiliki pemikiran yang sama tentang makan dan makanan," kata peneliti Ahli Gizi, Melissa Whitelaw seperti dikutip dari Nine.co.au, Senin (18/3).

“Kita perlu mendefinisikan kembali anoreksia karena peningkatan proporsi pasien anoreksia nervosa sekarang cenderung lebih sulit untuk dikenali. Definisi tersebut harus mengacu pada penurunan berat badan, bukan hanya berat badan rendah,” kata Whitelaw.

Sementara itu, salah satu ahli gangguan makan terkemuka di Australia mengatakan gangguan pola makan tak terkendali (binge-eating) dan bulimia nervosa sebenarnya merupakan gangguan makan yang paling umum. Sering kali itu tidak berdampak pada kekurusan yang ekstrem.

"Banyak orang mengatakan kepada saya bahwa dokter mereka mengatakan mereka tidak cukup kurus untuk memiliki gangguan makan," kata Dr Phillipa Hay, yang juga menjabat sebagai direktur Wesley Eating Disorders Center di Wesley Hospital Ashfield.

Dr Hay mengatakan bahwa ada risiko kesehatan yang nyata baik fisiologis dan psikologis terhadap gangguan makan, terlepas kondisi penderita sangat kurus atau tampaknya memiliki berat badan yang sehat.

"Makan sebanyak-banyaknya lalu mencoba memuntahkannya kembali dapat menyebabkan dehidrasi parah dan masalah metabolisme, menurunkan kadar kalium dalam tubuh, dan memicu masalah jantung," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA