Thursday, 14 Rajab 1440 / 21 March 2019

Thursday, 14 Rajab 1440 / 21 March 2019

Psikolog Sarankan Jangan Tonton Video Penembakan Masjid

Jumat 15 Mar 2019 13:42 WIB

Red: Indira Rezkisari

Petugas berpatroli di luar sebuah masjid di Christchurch, Jumat (15/3), usai insiden penembakan.

Petugas berpatroli di luar sebuah masjid di Christchurch, Jumat (15/3), usai insiden penembakan.

Foto: AP
Trauma akibat insiden yang berlarut-larut tanda seseorang butuh pertolongan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog klinis mengingatkan publik untuk tidak menonton video live pelaku penembakan massal di masjid di Christchurch, Jumat (15/3). Psikolog Ian Lambe mengatakan potensi trauma mungkin terjadi bila melihatnya.

Baca Juga

Aksi penembakan massal terjadi di dua masjid di Selandia Baru. Setidaknya 40 orang dikabarkan meninggal akibat kejahatan tersebut.

Seorang pelaku mengambil gambar aksinya dan menyebarkannya di media sosial secara luas. "Jangan tonton video itu," kata Lambie, dikutip dari NZ Herald.

"Melihatnya bisa menyebabkan trauma. Dan itu tidak akan membantu," katanya lagi.

Perasaan panik, tidak ingin meninggalkan rumah, merasa tidak bisa beraktivitas dan sulit tidur adalah tanda-tanda seseorang sulit memproses insiden traumatis. Lambe mengatakan, perasaan itu awalnya normal.

"Seseorang mungkin merasakan hal-hal itu, tapi ketika sudah terjadi beberapa minggu harus diwaspadai."

Ia menyarankan siapapun untuk menjaga satu sama lain. Terutama bagi warga di Christchurch. "Tunjukkan rasa welas asih dan pengertian ke orang lain," sarannya.

Ia menyarankan bila perasaan gundah tak kunjung tuntas, segera cari bantuan dari tenaga profesional. Jangan malu, kata Lambe, untuk mencari pertolongan.

Lambe menyarankan juga untuk tidak ragu bertanya ke orang lain apakah mereka butuh bantuan. "Lebih baik bertanya daripada tidak," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA