Thursday, 14 Rajab 1440 / 21 March 2019

Thursday, 14 Rajab 1440 / 21 March 2019

Melongok Level Stres dari Kondisi Gigi

Kamis 14 Mar 2019 16:00 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Anak mulai copot gigi susunya ketika berusia enam tahun.

Anak mulai copot gigi susunya ketika berusia enam tahun.

Foto: Pixabay/Bigbear
Level stres yang dialami semasa kecil membekas di gigi susu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada pertemuan Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan (AAAS) pekan lalu di Washington, DC, para peneliti menunjukkan apa yang bisa gigi ungkapkan tentang penyakit di masa depan. Temuan yang paling penting adalah stres yang dialami anak dalam tahun-tahun pertama kehidupannya akan membekas di gigi anak.

"Lapisan individual yang membangun gigi dalam enamel lebih tipis dan kurang padat dan kondisi itu meningkatkan kerentanan terhadap gigi berlubang," ujar psikolog kesehatan di University of California di San Francisco, Thomas Boyce, seperti dilansir DW, Kamis.

Perubahan ini dapat diukur dengan memeriksa gigi susu dengan rontgen 3D. Persoalannya, gigi susu akan tanggal satu per satu dan jarang sekali orang menyimpannya.

Stres tidak hanya datang dari tuntutan berlebihan di sekolah, tapi bisa juga dari hubungan yang tak harmonis dengan orang tua, kebisingan yang terus-menerus, atau bahkan penyiksaan fisik dan mental.

"Mereka yang sering stres menghasilkan banyak hormon stres kortisol. Konsentrasinya dapat diukur dalam darah dan air liur," kata Boyce. 

Boyce mengatakan pengecekan tersebut masih belum bisa menunjukkan paparan kortisol total. Itulah yang bisa diungkapkan oleh gigi. Hormon stres memengaruhi perkembangan geligi.

Stres masa kecil

Dari 2003 hingga 2005, Peers and Wellness Study memeriksa anak-anak di 350 keluarga di San Francisco Bay Area. Para peneliti menentukan ukuran, luas, volume, warna, dan ketebalan gigi susu anak-anak.

Mereka menemukan bukti bahwa anak-anak dengan ADHD dan gangguan perilaku sosial memiliki enamel lebih tipis dan pulpa dalamnya lebih kecil daripada anak-anak lainnya.

"Sejauh ini kami telah menggunakan air liur, darah, dan microbiome usus dalam sampel tinja sebagai biomarker dalam psikiatri. Gigi belum terlalu banyak digunakan dalam psikiatri," ujar Erin Dunn.

Tapi ternyata gigi dapat memberikan informasi penting tentang kondisi tahun-tahun pertama kehidupan seseorang. Menurut Dunn, penyebab banyak penyakit mental sebagian besar terletak pada pengalaman yang dimiliki seseorang dan bukan dengan gen mereka, terutama di masa awal sejak kelahirannya. Ini termasuk stres.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar stres memiliki peningkatan risiko menderita gangguan stres pasca-trauma, depresi atau kelainan makan di kemudian hari.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA