Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Demam Berdarah yang Belum Ada Habisnya

Selasa 26 Feb 2019 12:48 WIB

Rep: MGROL 120/ Red: Indira Rezkisari

Seorang ibu menunggui putrinya yang menderita demam berdarah dengue (DBD) di RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (12/2/2019).

Seorang ibu menunggui putrinya yang menderita demam berdarah dengue (DBD) di RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (12/2/2019).

Foto: Antara/Destyan Sujarwoko
Bila nyamuk bisa dijaga tidak berterbangan maka DBD bisa dicegah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musim hujan merupakan musimnya penyakit demam berdarah. Konsultan Penyakit Dalam bidang Penyakit Tropik Infeksi dr Adityo Susilo mengatakan ketika musim hujan maka nyamuk akan lebih banyak karena faktor banyaknya pula genangan air.

Menurut dr Adityo, penyebab penyakit demam berdarah adalah nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk ini selalu hadir di lingkungan masyarakat yang kotor sehingga menjadi sarang efektif bagi perkembangan nyamuk.

Larva atau jentik nyamuk adalah populasi yang dapat dilihat dengan kasat mata. Jentik nyamuk dengue hanya ditemukan di air bersih yang tidak mengalir dan dapat ditemukan dimanapun baik tempat kering maupun lembab.

"Penyakit ini masih menjadi sumber masalah di dunia, bahkan kasus ini tidak ada habis-habisnya. Pasien-pasien yang datang ke rumah sakit itu kebanyakan demam untuk tiga bulan terakhir," ujarnya.

Demam berdarah atau DBD disebabkan oleh virus dangue yang menyebar ke manusia melalui gigitan nyamuk. Artinya DBD tidak bisa menular langsung dari seseorang ke orang lain tanpa perantara nyamuk tersebut. "Menularnya lewat nyamuk, jadi kalau nyamuk tidak bertebangan tidak akan menular," kata dr Adityo.

Nyamuk Aedes Aegypti merupakan nyamuk yang aktif pada pagi dan sore hari. Nyamuk ini memiliki jarak terbang kurang lebih 100 meter dan umur 14 hari hingga 3 bulan.

Kemarin (25/2), Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) mengadakan forum terbuka di Jakarta dengan tujuan membantu menjelaskan wabah DBD ke masyarakat. Dinas kesehatan DKI Jakarta saat ini sudah menetapkan status waspada terhadap DBD terutama di bulan Februari-Maret 2019.

Dalam forum PAPDI, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah berupaya serius memberantas DBD. Yaitu dengan vaksinasi untuk menguatkan diri terhadap masyarakat serta mengadakan gerakan satu rumah satu jumantik.

"Jadi kalau ditanya kebijakan pemerintah seperti apa, yaitu mendorong gerakan satu rumah satu jumantik," kata dr Siti.

Jumatik merupakan singkatan dari juru pemantau jentik, anggota masyarakat yang secara sukarela memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di lingkungannya serta melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin. Jumantik juga berperan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapaan masyarakat menghadapi demam berdarah dengue (DBD).

Pemerintah telah memperbarui progam gerakan satu rumah satu jumantik dengan mengajak anggota keluarga ikut serta dalam pencegahan DBD. "Sebenarnya yang paling baru adalah kita melakukan gerakan satu rumah satu jumantik karena prinsipnya itu PSN, bagaimana PSN ini dipahami. Kalau dulu kan lebih pada jumantik yang artinya juru pemantau jentik. Nah kalau sekarang juru pemantau jentik yang artinya benar-benar dilakukan anggota keluarga itu sendiri." tutup dr. Siti Nadia

Jumantik berperan besar mencegah penularan DBD akibat nyamuk. Saat musim hujan genangan air membuat telur nyamuk lebih cepat mengupas dalam waktu kurang dari dua hari. "Jadi, kalau dulu adalah untuk mengeluarkan demam berdarah nyamuk harus mengigit orang yang terinfeksi demam berdarah ya, tapi sekarang tidak. Sekali dia (nyamuk) sudah mengigit orang demam berdarah, maka virus itu akan terbawa oleh si nyamuk," kata dr Siti.



Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA