Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Bersikap Bijaksana Bantu Atasi Kesepian

Senin 24 Des 2018 10:58 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi Wanita Kesepian

Ilustrasi Wanita Kesepian

Foto: pixabay
Kesepian bukan tentang isolasi sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesepian bisa dialami siapa saja bergantung kondisi dan pengalaman yang diterimanya. Para ilmuwan telah melakukan penelitian tentang penyebab kesepian dan cara mengatasinya. Cara mengatasi ini juga disimpulkan dari hasil penelitian.

Dari hasil penelitian ahli saraf geriatri Dilip Jeste dari UC San Diego dan timnya, usia 20-an, 50-an, dan 80-an merupakan usia yang paling banyak merasakan kesepian. Tetapi para peneliti juga menemukan satu temuan yang seharusnya mendorong optimisme. Selain mengukur tingkat kesepian dan isolasi sosial para partisipan, peneliti juga menilai dari sebuah tes yang dikembangkan bersama oleh Jeste.

Penelitian ini mengukur kebijaksanaan yang terikat pada area otak tertentu, dan terkait dengan kapasitas orang untuk hal-hal seperti sikap prososial, regulasi emosional, refleksi dan pemahaman diri, dan toleransi. Hasilnya, para peneliti menemukan hubungan terbalik yang kuat antara kebijaksanaan dan kesepian. Dengan kata lain, pada dasarnya, orang bijak mengalami lebih sedikit kesepian.

"Itu mungkin disebabkan oleh fakta perilaku yang mendefinisikan kebijaksanaan, seperti empati, belas kasih, pengaturan emosi, (dan) refleksi diri, secara efektif melawan atau mencegah kesepian yang serius," kata penulis pertama studi tersebut, Ellen Lee kepada CNN.

Masih banyak yang harus dipelajari tentang dasar-dasar kesepian secara psikologis dan fisiologis yang kompleks. Perlu diingat temuan baru ini didasarkan pada penilaian sekelompok orang yang jumlahnya relatif kecil dari satu bagian dunia.

Tetapi dalam menghadapi sesuatu yang telah diidentifikasi sebagai epidemi kesehatan global, setiap wawasan yang dapat membantu menemukan jalan menuju kesendirian yang lebih rendah harus disambut dengan tangan terbuka. "Kita perlu memikirkan kesepian secara berbeda. Ini bukan tentang isolasi sosial," kata Jeste.

Menurutnya, seseorang bisa sendirian dan tidak merasa kesepian, sementara seseorang bisa berada di tengah orang banyak dan merasa sendirian. Dia menganggap peneliti perlu menemukan solusi dan intervensi yang membantu menghubungkan orang-orang kesepian menjadi lebih bijaksana. Temuan ini dilaporkan dalam International Psychogeriatrics.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA