Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Makanan Pedas Turunkan Risiko Penyakit Jantung

Senin 28 Mei 2018 08:52 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Yudha Manggala P Putra

Makanan pedas. Ilustrasi

Makanan pedas. Ilustrasi

Foto: Womensforum
Makanan pedas mengurangi preferensi garam--salah satu pemicu penyakit jantung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbahagialah Anda yang suka pedas sebab bisa terhindar dari penyakit jantung yang disebabkan konsumsi garam berlebihan. Makanan pedas disebut bisa mengurangi sensitivitas lidah terhadap garam sehingga mengurangi keinginan untuk makan makanan asin, berdasarkan sebuah penelitian di Cina.

"Asupan garam tinggi meningkatkan tekanan darah dan berkontribusi pada penyakit kardiovaskular," kata penulis studi yang juga Direktur Rumah Sakit Pusat Daping Bidang Hipertensi dan Penyakit Metabolik, Zhiming Zhu, dilansir dari Web MD, Senin (28/5).

Makanan pedas secara signifikan mengurangi preferensi garam. Tim peneliti melakukan percobaan pada tikus yang kemudian diujicobakan pada 600 orang dewasa di Cina. Tingkat tekanan darah berkorelasi pada hidangan pedas dan asin.

Cabai dapat menyerap panas dan pada dasarnya mengubah cara otak menafsirkan garam atau natrium. Ketika konsumsi rempah dan bumbu alami lainnya meningkat, keinginan seseorang untuk mengonsumsi rasa asin berkurang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi pengurangan garam sebagai target diet utama untuk mengurangi risiko kematian akibat penyakit tidak menular hingga 2025. Banyak orang di berbagai belahan dunia mengonsumsi garam melebihi batas yang disarankan WHO.

American Heart Association menyarankan untuk mengonsumsi tidak lebih dari satu sendok teh garam--sekitar 2.300 miligram natrium--sehari. Di Amerika Serikat, tiga perempat dari semua konsumsi natrium berasal dari makanan yang diproses dan dikemas dan atau makanan restoran.

Konsumsi makanan pedas berarti mengurangi konsumsi garam secara tidak langsung 2,5 gram per hari. Pencinta rempah memiliki tingkat tekanan darah sistolik dan diastolik masing-masingnya 8 mmHg dan 5 mmHg lebih rendah.

Co-direktur Kardiologi di University of California, Los Angeles, Gregg Fonarow mengatakan bahwa tekanan darah tinggi adalah penyumbang utama serangan jantung, stroke, gagal jantung, dan gagal ginjal. Temuan ini dirilis secara online di Journal of Hypertension 31 Oktober 2017.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA