Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Awalnya Sakit Gigi, Akhirnya Disfungsi Ereksi, Kok Bisa?

Jumat 31 Aug 2012 08:44 WIB

Rep: Burhanuddin Bella/ Red: Endah Hapsari

Disfungsi ereksi yang dapat menimbulkan stres/ilustrasi

Disfungsi ereksi yang dapat menimbulkan stres/ilustrasi

Foto: militarymentalhealth.org

REPUBLIKA.CO.ID, Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan seseorang untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk dapat melakukan hubungan seksual secara sempurna. Mekanisme terjadinya disfungsi ereksi disebabkan oleh faktor psikoneuoroendokrin dan faktor vaskuler. Faktor umur, genetik, dan beberapa faktor risiko seperti hipertensi juga ikut berpengaruh.

Rangsang seksual berupa ereksi diawali oleh rangsangan seksual yang terjadi di daerah intragenital maupun ekstragenital. Ereksi yang terjadi tergantung dari rangsangan seksual yang bersumber dari rangsangan psikis maupun fisik, seperti penglihatan, pendengaran, perasaan, atau perabaan. Ereksi terjadi melalui dua mekanisme yang bekerja secara sinergis, yaitu ereksi refleksogenik dan ereksi psikogenik. Ereksi refleksogenik ditimbulkan oleh rangsangan pada daerah penis, sedangkan ereksi psikogenik ditimbulkan oleh rangsangan psikis.

Disfungsi ereksi pada kasus nyeri gigi, menurut kedua peneliti ini, diduga terjadi akibat penghambatan atau penekanan pada syaraf parasimpatis sehingga tidak mampu melepaskan neurotransmitter pada otot polos korpus kavernosum yang selanjutnya menyebabkan dilatasi pembuluh darah perifer.

Selain itu, otak di daerah thalamus dan hypothalamus sudah penuh dengan sensasi nyeri sehingga daerah tersebut tidak mampu mempersepsi sensasi seksual yang diterima, baik melalui rangsang rabaan, visual, imaginasi. Akibatnya, sensasi tersebut tidak dapat diteruskan ke serabut syaraf desenden menuju pusat ereksi di daerah segmen torakolumbal.

Menurut drg Hasanuddin Thahir SpPerio dari Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dari hasil penelitian ditemukan, nyeri gigi akibat pulpitis akut, periodontitis akut dan hiperemia pulpa memengaruhi rangsang seksual sehingga frekuensi hubungan seksual menjadi berkurang secara nyata. Bahkan pada kasus pulpitis akut dan periodontitis akut, hubungan seksual pada minggu pertama dan kedua berkurang antara 90 -97 persen.

Sementara itu, pada penderita periodontal abses, meskipun dapat melakukan hubungan seksual tetapi aktivitas bercumbu dalam hubungan seksual menurun secara nyata. ''Ini berarti, kualitas hidup seseorang dapat terpengaruh akibat nyeri gigi.''

Jadi, jangan remehkan sakit gigi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA