Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Kanker, Serangan Kepiting Pencapit

Rabu 30 May 2012 04:00 WIB

Rep: reiny dwinanda/ Red: M Irwan Ariefyanto

Hasil CT-Scan penderita kanker otak (ilustrasi).

Hasil CT-Scan penderita kanker otak (ilustrasi).

Foto: sciencephoto.com

REPUBLIKA.CO.ID,Dalam bahasa Inggris, ada suatu penyakit yang diberi nama cancer. Kata cancer dipakai lantaran ada sel liar yang berpolah ibarat kepiting ganas. Dia mencapit jaringan normal di sekitarnya. Itulah kanker. 

Di stadium awal, kanker nyaris tak bergejala. Ketika keluhan kesehatan hadir, penderita biasanya sudah berada pada stadium lanjut. Merujuk pada kenyataan tersebut, Perhimpunan Dokter Hematologi dan Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) dalam konferensi pers World Cancer Day 2012 sekaligus kongres nasionalnya yang pertama beberapa waktu lalu membeberkan serbaserbi kanker sebagai berikut: 

* Kanker tercatat di urutan kedua penyakit penyebab kematian di dunia setelah penyakit jantung dan pembuluh darah. Sedangkan, di Indonesia, ia berada di nomor empat. “Penanganan yang tepat dan profesional menentukan keberhasilan tera pi pasien,” jelas Prof Dr dr A Harryanto Reksodiputro SpPD KHOM. 

* Waspadai keberadaan benjolan yang tak wajar di tubuh. Benjolan yang jinak dikenal sebagai tumor. Benjolan akan disebut ganas jika ia berkembang cepat, tak terkendali, dan merusak jaringan normal di sekitarnya. Benjolan ganas ini disebut kanker. 

* Gaya hidup sehat saja bisa memangkas risiko terkena kanker sekitar 30 persen. 

* Untuk wanita, empat kali sehari mengonsumsi buah dan sayur dapat menurunkan peluang terserang kanker payudara sebesar 25 persen. “Untuk wanita, lakukan pemeriksaan payudara secara mandiri (sa dari) secara berkala, pap smear untuk yang pernah berhubungan seksual, dan dapatkan vaksinasi kanker serviks,” saran Dr dr Aru Sudoyo SpPD K-HOM dari Yayasan Kanker Indonesia. 

* Seberapa besar faktor genetik dalam menyebabkan terjadinya kanker? Jika dua dari tiga generasi dalam satu keluarga terdapat penderita kanker, risiko generasi ketiga untuk terkena kanker memang lebih besar. Namun, kanker tidak mutlak akan muncul pada generasi ketiga. 

* Leukemia termasuk jenis kanker yang tidak bisa dideteksi dini. Sebab, tidak ada peralatan pendukungnya. Kanker paru juga sukar dideteksi lantaran memerlukan CT scanparu dan pemeriksaan ini termasuk mahal serta tidak termasuk prosedur standar dalam medical check up. 

* Dalam waktu dekat, Indonesia akan memiliki sistem rujukan ke dokter penyakit dalam yang bekerja sama dengan ahli onkologi medis dalam menangani pasien kanker. Kebijakan ini diambil mengingat dokter onkologi medis di Indonesia baru berjumlah 70 orang, sementara prevalensi kanker empat dari 1.000 penduduk.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA