Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Endoskopi PECD Harapan Baru Pasien Nyeri Leher

Rabu 20 Feb 2019 00:40 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Ani Nursalikah

Sebagian besar pasien datang dengan nyeri leher karena akibat sering menonton televisi sambil tiduran. Bisa juga karena seringnya main gadget sambil tiduran.

Sebagian besar pasien datang dengan nyeri leher karena akibat sering menonton televisi sambil tiduran. Bisa juga karena seringnya main gadget sambil tiduran.

Foto: flex-pt
Teknik PECD menganut 2 pendekatan untuk menghilangkan herniasi bantalan sendi tulang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli kesehatan dunia menemukan teknik bedah terbaru yang disebut Percutaneous Endoscopy. Dengan teknik ini kebutuhan mendapatkan hasil pembedahan yang lebih baik dan harapan pasien bisa lebih cepat sembuh.

Pada 1990, diperkenalkan teknik baru untuk penanganan HNP servikal, yakni Percutaneous Endoscopic Cervical Discectomy (PECD). Sering disingkat pula menjadi Endoskopi Servical.

Di Indonesia sejak 8 November 2018, Mahdian Nur Nasution telah menjadi dokter Indonesia yang menjalankan praktik PECD pada pasien pertama di RS Meilia Cibubur. “Mahalnya alat yang harus di beli dokter atau rumah sakit, menjadi masalah yang harus menjadi perhatian bersama,” ujar Mahdian, Selasa (19/2).

Teknik PECD menganut dua pendekatan atau teknik, yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). Keduanya bertujuan menghilangkan herniasi bantalan sendi tulang belakang yang menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang. Dengan bantuan penglihatan langsung melalui kamera endoskopi yang ditampilkan pada layar.

Selain sayatan yang minimal hanya empat mm, tindakan ini dapat dilakukan melalui anastesi lokal saja. PECD memberikan harapan yang lebih baik dibandingkan teknik ACDF, total disc replacement (TDR),  hingga posterior microdiscectomy pada pengobatan HNP servikal. “Waktu operasi pasien juga menjadi lebih singkat, pemulihan cepat, kerusakan jaringan lebih minimal,” kata Mahdian.

Hingga saat ini tim  Mahdian yang dulu berada dibawah  payung Klinik Nyeri dan Tulang Belakang dan kini berganti nama menjadi Lamina Pain and Spine Center telah menangani 10 kasus dengan kesuksesan hasil mencapai 90 persen. Keberhasilan PECD ini bergantung pada pemilihan pasien yang tepat dan dekompresi elemen saraf yang adekuat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA