Sunday, 12 Jumadil Akhir 1440 / 17 February 2019

Sunday, 12 Jumadil Akhir 1440 / 17 February 2019

Pahami Balita Alami Obesitas atau Stunting Lewat Kondisi Ini

Sabtu 19 Jan 2019 07:35 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Andri Saubani

Dorong anak bergaya hidup aktif agar terhindar dari obesitas.

Dorong anak bergaya hidup aktif agar terhindar dari obesitas.

Foto: Republika/Musiron
Fenomena obesitas dan stunting pada balita banyak terjadi di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan tips mengetahui anak bawah lima tahun yang alami obesitas atau balita bertubuh pendek (stunting) dengan mengukur berat badannya. Patokannya adalah untuk anak yang berusia hingga dua tahun tidak boleh memiliki berat badan lebih dari 27 kilogram (kg).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Cut Putri Arianie mengatakan, ukuran berat badan ideal balita hingga berusia dua tahun tidak boleh lebih dari 27 kg. "Cara menghitungnya yaitu berat badan dibagi dengan kuadrat tinggi badan dan untuk balita hingga usia dua tahun jangan lebih dari 27 kg," katanya saat ditemui di konferensi pers temu media bertema Hari Gizi Nasional 2019, di Jakarta, Jumat (18/1).

Ia menambahkan, Kemenkes mencatat obesitas tertinggi di Sulawesi Utara, DKI Jakarta dan Kalimantan Utara. Sementara, obesitas terendah terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Berbeda dengan obesitas, stunting pada balita dan anak juga banyak terjadi di Tanah Air.

Sayanvnya, fenomena stunting tidak bisa langsung diketahui. Direktur Gizi Msyarakat Kemenkes Doddy Izwardy menambahkan, stunting pada anak baru terlihat ketika ia berumur dua tahun.

"Stunting terjadi sejak proses janinnya. Kemudian baru diketahui kalau ia stunting kalau sampai usia dua tahun ternyata tidak berkembang berat badannya atau tidak sesuai usianya," ujarnya.

Karena stunting tidak mudah diketahui sejak awal, ia meminta para orang tua berupaya mencegahnya. Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari menambahkan, kasus-kasus di atas harusnya bisa dicegah dengan pola makan dan perilaku. Selain itu upaya promotif preventif seperti aktivitas fisik, asupan gizi, hingga standar kecukupan garam gula lemak juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Ini yang dipromosikan, jadi paling tidak masyarakat tahu batasnya," kata Kirana. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB