Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Manfaat Latihan Fisik bagi Penderita Diabetes

Ahad 09 Dec 2018 12:00 WIB

Rep: MGROL 116/ Red: Ani Nursalikah

Olahraga di siang hari (ilustrasi)

Olahraga di siang hari (ilustrasi)

Foto: Independent
Manfaat olahraga bisa bertahan beberapa hari.

REPUBLIKA.CO.ID, DALLAS -- Penelitian baru-baru ini menemukan satu kali latihan fisik dapat mengaktifkan sirkuit otak yang dapat mengurangi nafsu makan, menurunkan kadar gula darah, dan metabolisme jadi lebih baik. Manfaat ini akan terasa selama dua hari setelah latihan fisik. Temuan ini dapat membantu meningkatkan metabolisme gula darah pada penderita diabetes.

Menurut perkiraan terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lebih dari 100 juta orang di Amerika Serikat saat ini mengidap diabetes atau pradiabetes. Lebih dari 30 juta orang dewasa AS mengidap diabetes dan lebih dari 84 juta dinyatakan pradiabetes. Menurut CDC, pradiabetes dapat berkembang menjadi diabetes dalam lima tahun.

Mengontrol kadar gula darah dengan aktivitas fisik dan diet adalah kunci untuk mencegah diabetes. Namun, penelitian terbaru menunjukkan perlu adanya sedikit lebih aktivitas fisik dari yang biasa dilakukan untuk memerangi penyakit diabetes.

Seorang ahli saraf di University of Texas Southwestern di Dallas Kevin Williams dengan rekannya meneliti manfaat satu kali latihan fisik terhadap dua jenis neuron pada tikus. Neuron-neuron yang dimaksud adalah neuron pro-opiomelanocortin (POMC) hipotalamus dan neuropeptida Y/agouti- terkait peptida (NPY/AgRP).

Dalam jurnal Molecular Metabolism, para ilmuwan menyatakan neuron POMC dapat membuat nafsu makan menurun, mengurangi kadar gula darah, dan metabolisme jadi lebih aktif. Neuron NPY/AgRP di sisi lain juga dapat meningkatkan nafsu makan dan memperlambat metabolisme.

Para ilmuwan sebelumnya telah mempelajari sifat sirkuit otak melanocortin berkaitan dengan diet dan puasa, tetapi mereka belum menyelidiki bagaimana latihan fisik mempengaruhi neuron-neuron ini. Jadi, Williams dan tim memeriksa aktivitas otak dan laju penembakan neuronal pada tikus transgenik setelah latihan fisik 60 menit treadmill yang dibagi menjadi tiga sesi berturut-turut. Hal itu memicu perubahan pada neuron melanocortin hewan yang berlangsung hingga dua hari.

Setelah satu sesi latihan, neuron POMC menunjukkan peningkatan aktivitas, sehingga mengurangi nafsu makan dan menurunkan kadar glukosa darah, sementara aktivitas di neuron AgRP menurun. Penelitian sebelumnya telah menemukan neuron AgRP yang terlalu aktif dapat menurunkan metabolisme dan meningkatkan nafsu makan.

"Tidak perlu banyak latihan untuk mengubah aktivitas neuron-neuron ini," kata Williams seperti yang dilansir di laman Medical News Today, Sabtu (8/12).

Para peneliti juga melatih tikus hingga 10 hari dan menemukan efek neuronal bertahan lebih lama jika masa pelatihan lebih lama. "Berdasarkan hasil kami, kami akan memprediksi berolahraga bahkan sekali dalam cara semi-intens dapat menuai manfaat yang dapat bertahan selama berhari-hari, khususnya sehubungan dengan metabolisme glukosa," kata Williams.

Tikus juga kehilangan nafsu makan setelah latihan fisik. Efek ini berlangsung hingga enam jam setelah berolahraga. "Hasil ini dapat menjelaskan pada tingkat sirkuit saraf mengapa banyak orang tidak merasa cepat lapar setelah berolahraga," ucap Williams.

Dia mengatakan ada kemungkinan dengan mengaktifkan neuron melanocortin dapat memberikan manfaat terapeutik bagi pasien, terutama bagi pengidap diabetes yang membutuhkan perbaikan regulasi gula darah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA