Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

70 Persen Anak-Anak di Cina Menderita Insomnia

Jumat 01 Apr 2016 12:58 WIB

Rep: MGROL60/ Red: Andi Nur Aminah

Anak-anak di Cina

Anak-anak di Cina

REPUBLIKA.CO.ID, Anak-anak dari usia 7 hingga 16 tahun sering sekali tidur hingga larut malam. Hal itu sangat banyak terjadi di Cina. Survei membuktikan bahwa anak-anak sering memegang posel atau tablet sebelum waktu tidur.

Menurut penelitian, lebih dari 70 persen anak-anak di sembilan kota di Cina termasuk Shanghai, Guangzhou, Xi'an, dan Wuhan, mengalami waktu tidur lebih sedikit dari apa yang dibutuhkan untuk usia dan pertumbuhan mereka. Xu Zhifei, seorang dokter di Rumah Sakit Anak Beijing menjelaskan bahwa tingkat kurang tidur kemungkinan menghambat perkembangan kognitif mereka dan kemampuan belajar anak-anak.

Di Shanghai, pemerintah telah memutuskan untuk mengubah jadwal waktu masuk sekolah yang dimulai pukul delapan pagi. Berkat pembaharuan ini, kemampuan pembelajaran anak-anak mengalami peningkatan. 

Bukan hanya anak-anak di Cina yang terpengaruh oleh masalah tidur. Orang dewasa di Cina juga banyak mengalami insomnia, khusunya orang-orang yang bekerja di bidang kehumasan, media dan industri game merupakan peringkat teratas di antara mereka yang tidur hingga larut malam.

"Pola tidur yang baik itu tujuh hingga sembilan jam dan akan menjamin aktivitas yang baik di keesokan harinya." kata Yang Qingwu, seorang dokter dari Rumah Sakit Xinqiao.

Menurut data China Sleep Research Society, sekitar 17 juta orang menderita berbagai penyakit mental, yang dapat disebabkan oleh gangguan tidur. Di Cina, bentuk paling umum dari gangguan tidur adalah insomnia, yang memengaruhi sekitar 30 persen dari populasi penduduk negara itu. 

Jia Fujun, wakil presiden China Sleep Research Society, menguraikan bahwa insomnia jangka panjang dapat menyebabkan depresi. "Insomnia jangka panjang adalah faktor utama yang dapat menyebabkan depresi klinis," kata Jia. 

Menurut Jia, mereka yang menderita insomnia memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA