Kamis , 10 August 2017, 06:29 WIB

Desa Giethoorn di Belanda: Serasa Berada di Negeri Dongeng

Red: Irwan Kelana
Dok Adinda Azzahra
Desa Giethoorn di Belanda, tenang dan memesona.
Desa Giethoorn di Belanda, tenang dan memesona.

REPUBLIKA.CO.ID, GIETHOORN --  Untuk pelancong yang sudah sering berkunjung ke Belanda,  mungkin bosan dengan destinasi Amsterdam, Volendam dan Saanze Shans. Giethoorn merupakan alternatif sebagai tempat adem nan sejuk dan bebas polusi yang dikenal juga sebagai Venice di Utara.

Giethoorn, sebuah pedesaan bersih dan tenang berada di Provinsi Overijssel, Netherland. Giethoorn memiliki parit-parit yang berkelak kelok dan rumah-rumah petani yang terbuat dari kayu dan atap dari jerami.
 
“Di kawasan itu sengaja tidak ada kendaraan bermotor, sehingga hanya ada perahu yang menjadi alat transportasi. Dunia wisata Belanda dengan jeli menawarkan obyek baru wisata ini dengan sebutan nama The Little Venice, Venesia Kecil,” kata tour leader senior  Priyadi Abadi melalui pesan instan kepada Republika.co.id, Rabu (9/8) langsung dari Giethoorn.

Menurut  sejarah Belanda,  Geithoorn berasal dari kata sambungan dalam bahasa Belanda, “Geiten = Kambing”  ” Hoorn = Tanduk”.

Saat ini populasinya  kurang dari 2.900 orang. “Giethoorn terkenal akan desanya yang membuat Anda merasa seperti berada di negeri dongeng dengan rumah-rumah cantik, jembatan-jembatan unik. Ditambah lagi keberadaan kanal-kanal dengan perahu-perahu yang berlalu lalang yang membuat desa ini sangat tenang, tidak ada suara mobil,” papar chief executive officer (CEO) Adinda Azzahra Tour itu.

Sesuai regulasi setempat, perahu-perahu yang beroperasi, menggunakan motor listrik sehingga tidak menimbulkan polusi, baik asap maupun suara. “Ini juga menyumbang ketenangan di desa ini,”  ujar Priyadi yang saat ini tengah membawa rombongan wisatawan Muslim (Muslim traveller) di Eropa Barat.

Desa ini tidak memperbolehkan hotel untuk berdiri karena dianggap tidak sesuai dengan filosofi desanya yang kecil dan sederhana. Sehingga, bentuk penginapan yang populer adalah guest house dengan konsep bed and breakfast.

“Di Giethoorn, kita dapat berjalan menyusuri kanal dan menikmati indahnya desa, mengunjungi toko cenderamata, mengunjungi museum, maupun  bersantai di restoran atau kafe di desa tersebut,” tutur ketua Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) itu.

Desa ini memiliki dua museum yang terkenal.  Museum De Oude Aarde yang memamerkan batu atau mineral dari berbagai belahan dunia, dan Museum Het Olde Maat yang menampilkan impresi Giethoorn 100 tahun yang lalu.

Salah satu kegiatan yang tidak boleh dilewatkan yaitu mengikuti boat tour mengelilingi kanal menggunakan Saloon Boat yang memakan waktu satu jam. Biayanya  7,5 euro.

“Pengemudi boat juga akan bertindak sebagai tour guide yang menjelaskan mengenai sejarah Giethoorn dan obyek-obyek menarik di Giethoorn,” papar Priyadi yang juga ketua Asosiasi Tour Leader Muslim Indonesia (ATLMI).

Giethoorn akan jauh lebih indah jika dikunjungi pada musim panas. “Namun kami diberitahukan oleh penduduk setempat bahwa pada musim panas jumlah wisatawan yang datang ke Giethoorn akan sangat banyak,” ungkapnya.

Akibatnya toko cenderamata, museum, ataupun restoran dan kafe dipadati oleh wisatawan, termasuk boat tour yang harus mengantre lama. “Suasana seperti ini justru membuat wisatawan tidak merasa nyamam terutama bagi mereka yang mencari ketenangan di Giethoorn,” ujarnya.

Priyadi mengemukakan, Giethoorn sangat cocok sebagai destinasi wisata Muslim atau wisata halal di Belanda. "Setelah Amsterdam, Volendam dan Saanze Shans, kini bertambah satu lagi destinasi wisata halal di Belanda, yaitu Desa Giethoorn yang tenang dan memesona," tutur Priyadi Abadi.