Selasa , 07 November 2017, 04:30 WIB

Kontrol Diri Bantu Pengguna Belia Hindari Konten Negatif

Rep: MGROL 99/ Red: Indira Rezkisari
EPA/Ritchie B.Tongo
Whatsapp
Whatsapp

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengguna Whatsapp yang berusia belia ternyata juga perduli dengan mudahnya akses konten tidak pantas lewat format GIF di aplikasi perpesanan tersebut. Karena tidak bisa dihindari pengguna Whatsapp belia sadar pentingnya kontrol diri.

Tia Ayunita, mahasiswa Universitas Serang Raya mengaku baru mengetahui format GIF bisa menampilkan konten yang tidak pantas. “Aku malah baru tau adanya ini, tapi kalau itu benaran ada berarti kurang adanya kontrol dari Whatsapp. Soalnya ini kan bagian dari emoji berarti pengaturan semuanya ada di aplikasi,” ujarnya.

Untuk mengindarinya mudah saja, lanjutnya, kebijakan pengguna tentunya sangat berperan penting. Memilih untuk tidak menggunakan GIF dan menyebarluaskannya dirasa pilihan yang bijak.

“Daripada ribut-ribut di dunia maya, mengeluh dan menyalahkan pihak lain, lebih baik kontrol diri sendiri untuk bijak menanggapinya,” katanya.

Senada Viniy Sylvia mengaku baru pula mengetahui soal konten tidak pantas di Whatsapp. “Dua minggu lalu dapat broadcast dari grup kalau misalkan ada cuplikan video porno di Whatsapp, awalnya saya tidak langsung percaya tapi makin banyak teman-teman yang cerita dan sudah ada yang mencoba jadinya saya percaya,” kata mahasiswa UNJ ini.

Menurutnya, penggunaan media sosial yang benar menjadi salah satu cara agar tidak mudah terpapar konten porno baik di Whatsapp atau media lain. Semua tergantung bagaimana menanggapinya.

“Kurang tau sih kalau ada masalah seperti ini harus seperti apa, kalaupun mau lapor ke Kominfo pasti sudah banyak juga yang lapor, paling yang bisa dilakukan ya kita untuk tidak mengirim atau menggunakan emoji itu,” katanya.

Seperti dikutip dari situs Kominfo, Kementerian aduan konten berbau pornografi yang masuk sebanyak 775.339.

Supaya remaja bisa pandai mengontrol diri, peran orang tua dipandang penting. Darwis Sagita, sebagai orang tua, ikut khawatir media sosial dan jagat maya penuh dengan konten negatif bagi anak. Ia pun memilih mendekatkan anak kepada ajaran agama.

Tak hanya itu sebagai orang tua ia merasa harus ikut memahami dunia digital yang digemari anak. “Selain itu, harus menjalin komunikasi yang harmonis dengan anak, sehingga anak juga terbuka dalam menceritakan  berbagai hal,” katanya.

Berita Terkait