Rabu , 13 September 2017, 05:12 WIB

Koalisi Yayasan Amal Buat Film Pendek tentang Kanker

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Hazliansyah
youtube
Ilustrasi Sel Kanker
Ilustrasi Sel Kanker

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Koalisi dari lima yayasan alam merilis tayangan singkat mengenai jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan. Video pendek tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya akses penanganan kanker modern bagi pengidap kanker maupun keluarganya.

Yayasan tersebut antara lain Ovacome, Fight Bladder Cancer, Action on Womb Cancer, Melanoma UK, dan Second Hope. Video yang mereka buat menampilkan sejumlah individu yang hidupnya berubah drastis akibat jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan.

Tayangan pertama yang diiringi versi akustik lagu "(I've Had) The Time of My Life" adalah sesi wawancara dengan pria 41 tahun bernama Daniel. Ia kehilangan istrinya Katie yang meninggal dunia karena mengidap kanker paru-paru pada April 2017 silam.

Selama Katie berjuang melawan penyakitnya, Daniel membantu sang istri untuk mewujudkan sebanyak mungkin mimpinya yang masih terpendam. Beberapa mimpi Katie yang berhasil dicapai yaitu berwisata ke Laut Mati, berenang bersama lumba-lumba, dan naik ke puncak Menara Eiffel.

Film kedua berkisah tentang Cher, perempuan 55 tahun yang sedang berjuang melawan kanker ovarium yang tak dapat disembuhkan. Sementara cerita dalam film ketiga ialah perempuan 35 tahun pengidap kanker ovarium bernama Rebecca dan suaminya Ming yang hidup tegar dengan penanganan modern.

Kampanye tersebut meminta seluruh pihak untuk secara terbuka menunjukkan dukungan mereka terhadap pasien kanker yang tidak dapat disembuhkan di seantero Inggris, bahkan dunia. Selain akses perawatan, pasien sebisa mungkin harus memiliki waktu berkualitas untuk dihabiskan bersama orang-orang tercinta.
 
"Kasus kanker terus meningkat, dengan jumlah pengidapnya diperkirakan tumbuh sekitar satu juta setiap dekade antara periode 2010 sampai 2030. Sayangnya, akses terhadap perawatan untuk meningkatkan kelangsungan hidup pasien masih kurang konsisten tersedia di Inggris," ujar CEO Ovacome Louise Bayne, dikutip dari laman Standard.