Senin , 17 July 2017, 01:03 WIB

Psikolog Analisis Pelaku Bullying Mahasiswa Autisme

Rep: Novita Intan/ Red: Indira Rezkisari
Foto : MgRol_92
Ilustrasi Stop Bullying
Ilustrasi Stop Bullying

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi bullying atau perisakan belakangan makin marak terjadi. Korbannya bisa jadi anak sekolah hingga anak kuliah.

Beberapa hari terakhir, warganet dibuat heboh sekaligus geram dengan sebuah aksi perisakan yang dilakukan sekelompok mahasiswa. Video ini pertama kali diunggah di akun Instagram @thenewbikingregetan

Berdasarkan keterangan yang dituliskan dalam unggahan tersebut, kejadian ini terjadi di sebuah kampus di Depok, Jabar. Dalam video tersebut terlihat seorang mahasiswa yang diduga berkebutuhan khusus atau autisme tengah dikepung serta diganggu oleh teman mahasiswanya sendiri.

Psikolog keluarga, Kassandra Putranto, mengatakan fenomena ini merupakan dampak dari terabaikannya prinsip inklusi dan indiskriminasi dalam sistem pendidikan Indonesia. Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi akademik dan fokus pada kecerdasan intelektual kerap mengabaikan kecerdasan sosial dan emosional.

"Ketika individu tidak pernah belajar tentang nilai-nilai pekerti dan mereka tidak mendapatkan konsekuensi dari perilaku yang diskriminatif terhadap orang yang berbeda, bahkan mungkin memperoleh penguatan berupa tepuk tangan, dianggap hebat, dan didukung atau dibiarkan, perilaku tersebut akan semakin melekat menjadi bagian dari karakter," ujarnya kepada Republika.co.id di Jakarta, dikutip Senin (17/7).

Menurutnya, kadang orangtua kerap melihat pendidikan dalam bentuk formal saja. Sehingga yang terjadi seorang individu yang sudah mahasiswa dianggap sudah dewasa tetapi kedewasaan fisik tidak berbanding lurus dengan kematangan pribadi.

"Bisa jadi usia fisik sudah bukan anak-anak tetapi usia mentalnya belum matang," ungkap dia.

Dalam kasus ini, menurutnya, pelaku perisakan jelas merupakan individu yang belum paham bahwa perilakunya termasuk kategori kekerasan dan mengandung sanksi hukum. Sementara mahasiswa lain yang memberikan dukungan dengan menganggap lucu atau bahkan tidak berbuat apa-apa sebenarnya juga ikut bersalah.