Senin , 19 Juni 2017, 07:39 WIB

Takjil dan Bukber, Pencetus Kantong Jebol Selama Ramadhan

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari
Republika/Wihdan Hidayat
Warga membeli aneka macam takjil di Pasar Takjil Benhil, Jakarta, Senin (6/6). (Republika/Wihdan Hidayat)
Warga membeli aneka macam takjil di Pasar Takjil Benhil, Jakarta, Senin (6/6). (Republika/Wihdan Hidayat)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Sebagai momentum penuh perayaan, bulan Ramadhan sangat identik dengan berbagai macam pengeluaran yang sering tidak dijumpai di hari-hari biasa. Salah satu fenomena klasik yang kerap ditemui adalah pengeluaran yang membengkak dan bahkan kehabisan dana di penghujung Ramadhan.

Konsultan keuangan dan penulis buku 'Finchickup', Farah Dini, menjelaskan ada beberapa penyebab yang menjadikan pos pengeluaran acap kali membengkak di bulan Ramadhan. Penyebab tersebut antara lain acara buka puasa bersama yang sering dijadikan ajang berkumpul dengan teman-teman yang jarang ditemui jika tidak ada momen yang tepat.

Pengaturan keuangan Ramadhan menurut Farah utamanya ada pada bujeting yang memang susah dilakukan. Pertama, kita harus tahu dulu pengeluaran di Ramadhan apa saja. Yang paling besar tentu untuk buka puasa, baik di rumah maupun di luar rumah. Di rumah pun kita kerap lapar mata, semua takjil dan makanan utama ingin dibeli atau dibuat sendiri. Padahal belum tentu juga dihabiskan.

“Nah kita harus set bujet untuk takjil segala macam, untuk masak di rumah dari sahur sampai makan malam itu berapa. Dari tujuh hari, yang kita mau bukber bareng di luar berapa kali, kita set dua kali misalnya. Kemudian tentukan kita mau pergi sendiri apa sama keluarga? Kalau sendiri, berarti kita bujet untuk satu orang, Kalau keluarga, berapa anggota keluarga yang ikut. Kalau kita mau bukber, mau undang keluarga besar, tanggungan siapa? Enggak taunya tanggungan kita sama suami, berarti kita harus set bujet, kalau mau begitu pastikan, kalau mau bukber diluar bukbernya di mana, berapa bujet yang mau dihabiskan,” paparnya kepada Republika.co.id, dalam acara Diskusi Interaktif Jelang Berbuka, "Cerdas Kelola Keuangan di bulan Ramadhan – Ayo #DoITCERDAS”, di Jakarta belum lama ini.

Farah menyarankan ketika bukber bersama teman, jangan takut untuk mengeluarkan saran untuk cari tempat bukber yang murah. Terkadang kita hanya ikut saja tempat bukber yang sudah ditentukan meskipun mahal. “Sekali bukber di luar untuk sendiri Rp 100 ribu, seminggu dua kali bukber, berarti sebulan ada delapan kali bukber, biaya bisa mencapai Rp 800 ribu. Harus ingat uang jangan dihabiskan untuk bukber,” ujarnya,

Untuk dana buka puasa di rumah dan di luar, juga untuk sahur, Farah mengatakan dananya sama seperti makan di bulan sebelumnya. Bulan puasa sama dengan bulan sebelumnya untuk pengeluaran karena gaji tetap sama. “Untuk buka puasa berarti uang makan pagi sama siang, untuk sahur berarti uang makan malam kita, jumlahnya tak boleh lebih dari pengeluaran harian di bulan-bulan sebelumnya,” ujarnya.

Selain kebutuhan buka puasa bersama, lanjut Farah, kenaikan biaya dibulan Ramadhan ada pada pengeluaran rumah tangga atau utilitas. Pengeluaran rumah tangga seperti penggunaan listrik, air, gas dan bahan-bahan pokok juga sering melonjak. Ini lantaran lebih sering memasak saat Ramadhan.

Jadi lebih hemat masak sendiri atau jajan di luar? Menurutnya, bisa dengan patungan jika buka bersama di kantor. Atau bisa potluck, masing-masing orang yang ikut bukber bawa makanan. “Cari alternatif, bukan berrati tidak bukber sama sekali. Bukber adalah ajang silahturahmi, alternatif dipikirkan, agar pengeluaran tetap terjaga seperti pengeluaran di hari biasa,” tambahnya.