Jumat , 19 May 2017, 14:42 WIB

Produk Chanel Dituduh tidak Hormati Suku Aborigin

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Indira Rezkisari
dok Chanel
Bumerang Chanel
Bumerang Chanel

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perusahaan multinasional Chanel dituduh tidak menghormati suku asli Australia, Aborigin. Industri mode ini dianggap telah memanfaatkan budaya penduduk asli Australia dengan menjual bumerang sebesar 2.000 dolar AS.

Bumerang Chanel merupakan sebuah kayu dan resin hitam yang saat ini dijual dengan harga 1.930 dolar Australia. Produk ini menjadi salah satu bagian dari koleksi aksesoris merek Prancis. Kemunculan produk ini langsung menuai kritik dari sejumlah kalangan, dilansir Independent, Jumat (19/5).

Bumerang secara tradisional merupakan alat berburu untuk penduduk asli Australia. Kritik terhadap produk Chanel berpusat pada fakta bahwa mereka memperoleh keuntungan dari sebuah artefak asli dan menjualnya dengan harga yang sangat tinggi. Padahal banyak masyarakat adat di negara tersebut hidup dalam kemiskinan dan menghadapi diskriminasi.

Masalah ini menjadi perhatian besar setelah make up artis dan influencer, Jeffree Star memamerkan bumerang barunya di Snapchat, Twitter dan Instagram pada Senin lalu. Dia juga menerima banyak kritik, terutama mengenai harga yang dibanderol pada barang itu.

Mengenai masalah ini, Juru Bicara Chanel mengaku sangat menyesalkan jika terdapat beberapa orang merasa tersinggung. Pada dasarnya, dia mengklaim, Chanel sangat berkomitmen untuk menghormati semua budaya. Inspirasi ini sebenarnya diambil dari kegiatan rekreasi dari belahan dunia lain dan bukan niat pihaknya untuk tidak menghormati komunitas Aborigin dan Torres Strait Islander, termasuk siginifikasi mereka pada bumerang sebagai objek budaya.

“Objek itu sebenarnya dimasukkan ke dalam rangkaian olahraga," tegas dia.

Perusahaan menegaskan, pakaian olah raga selalu menjadi bagian dari identitas Chanel. Untuk musim semi dan panas 2017, pihaknya mengumpulkan bumerang sebagai bagian dari pendekatan yang lama.

 

Berita Terkait