Ahad , 22 Oktober 2017, 05:47 WIB

Pesona Karangasem dari Rumah Pohon Batu Dawa

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Andri Saubani
REPUBLIKA/Muthia Ramadhani
Suasana di rumah pohon Batu Dawa.
Suasana di rumah pohon Batu Dawa.

REPUBLIKA.CO.ID, KARANGASEM -- Karangasem dijuluki bumi lahar dan tandus di Pulau Dewata. Salah satu kabupaten di Bali Timur ini belum begitu dilirik wisatawan karena jaraknya cukup jauh dari ibu kota provinsi. Meski demikian, Karangasem memiliki sejumlah obyek wisata populer, seperti Tirta Gangga, Pantai Amed, Labuhan Amuk, dan Taman Ujung.

Wisatawan kini mempunyai segudang alasan untuk berkunjung ke Karangasem. Banyak obyek wisata alternatif siap memanjakan pengunjung, salah satunya Rumah Pohon Batu Dawa.

Rumah Pohon Batu Dawa terletak di Banjar Batu Dawa, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu. Lokasinya berjarak sekitar 65 kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

Wisatawan tak akan menemukan Rumah Pohon Batu Dawa di aplikasi Google Map, melainkan Rumah Pohon Tulamben. Pengunjung juga tak akan menemukan papan petunjuk lengkap sepanjang perjalanan, sehingga lebih efektif manfaatkan gawai yang ada. Jika tak memungkinkan, pengunjung bisa bertanya kepada masyarakat yang dijumpai sepanjang jalan Kubu. Mereka rata-rata bisa menjelaskan lokasi rumah pohon ini.

Luas area Rumah Pohon Batu Dawa sekitar 60 are. Pengunjung cukup membayar Rp 20 ribu per orang untuk masuk ke kawasan ini.

Rumah Pohon Batu Dawa sebetulnya lebih tepat disebut rumah bambu. Hanya saja, masyarakat sudah telanjur menyebutnya rumah pohon. Lokasi ini hanya memiliki satu unit rumah pohon yang bisa dijumpai setelah melalui pintu masuk utama, sementara lainnya berupa anjungan, rumah bambu, dan shelter bambu yang dibangun menyerupai rumah panggung.

Hal pertama yang akan dilihat pengunjung setelah menaiki puluhan anak tangga menuju pintu masuk kawasan ini adalah candi mini berundak tujuh tingkat dengan sebuah stupa di atasnya. Lantunan doa-doa umat Hindu terdengar dari candi ini membuat pengunjung ikut merasakan suasana suci dan sakral di sekitarnya.

Wisatawan bisa melihat pemandangan spektakuler saat berada di atas rumah pohon atau anjungan rumah bambu lainnya. Pantai Amed dan Pantai Tulamben terbentang luas dari kejauhan di sebelah timur, sementara puncak Gunung Agung berdiri gagah di barat daya. Gunung Agung merupakan gunung tertinggi sekaligus gunung suci masyarakat Bali yang saat ini masih menunjukkan aktivitas setelah berstatus awas.

Sekitar delapan rumah bambu berdinding terbuka siap menjadi tempat istirahat, makan, atau sekadar melepas penat pengunjung. Antara satu rumah dengan rumah lain dihubungkan jembatan bambu yang kokoh, sehingga pengunjung tak perlu khawatir akan roboh.

Lantai bawah setiap rumah bambu ini memanjakan pengunjung khususnya anak-anak. Pemilik menyediakan sejumlah ayunan terbuat dari ban, juga hammock alias ayunan gantung.

Pemilik Rumah Pohon Batu Dawa, Komang Satrana Budi mengatakan tujuan awalnya membangun rumah pohon ini untuk menyalurkan hobinya berkebun. Hal itu terlihat dari beberapa titik di lokasi yang sangat hijau.

Berbagai tanaman pohon dan buah, seperti jeruk bali, jambu biji, markisa, hingga anggur tertata rapi dan menyejukkan mata. Beberapa orang tukang kebun merapikan rerumputan dan tanaman pagar supaya tempat ini tetap indah. Sedikit demi sedikit Komang dan keluarganya membangun kawasan ini hingga berkembang seperti sekarang.

Pemandangan unik lainnya yang bisa dijumpai di Rumah Pohon Batu Dawa adalah sejumlah satwa yang dilepasliarkan. Sepasang burung rangkong tampak bertengger di salah satu sisi rumah bambu. Keduanya begitu jinak dan tak terusik dengan keberadaan pengunjung. Sesekali pasangan burung yang dikenal setiap sampai mati ini terbang berpindah dari satu shelter ke shelter lainnya.

Sebatang pohon ara tinggi menjulang menjadi sumber pakan burung eksotis tersebut. Pengunjung juga bisa menyaksikan burung romantis ini saat rangkong jantan menyuapkan biji pohon ara kepada rangkong betina.

Satwa lain yang tinggal di Rumah Pohon Batu Dawa adalah kelinci, ikan, tupai, monyet, kambing, hingga kalkun. Wisatawan hanya perlu waspada dengan seekor gagak hitam bernama Putu. Burung cerdas itu suka mencuri makanan pengunjung, sehingga tak direkomendasikan bersantap di anjungan rumah bambu bagian atas.

Harga makanan yang dijual di rumah bambu ini sangat terjangkau, berkisar 10-15 ribu per porsi. Pengunjung bisa memesan menu-menu sederhana, seperti nasi goreng, mi goreng, nasi pecel, atau sekadar menyeruput segelas teh manis hangat dengan cukup merogoh kocek lima ribu rupiah.

Komang menyakralkan Rumah Pohon Batu Dawa. Ini demi menghormati alam dan menjaga perilaku muda-mudi yang terkadang lupa dengan etika berwisata. Setiap sudut bangunan dipasangi CCTV yang mengawasi interaksi pengunjung di kawasan ini.

"Layaknya rumah, tamu hendaknya bisa menjaga sopan santun. Saya berusaha supaya anak muda yang berkunjung tidak menyalahgunakan tempat ini," kata Komang kepada Republika, belum lama ini.

Ayah empat anak ini melihat banyak perilaku menyimpang generasi muda zaman sekarang. Pergaulan bebas, pacaran tanpa batas, hingga budaya barat yang bertentangan dengan adat ketimuran pun dilanggar.

Sejumlah papan peringatan terbuat dari kayu bertuliskan nasihat kepada muda-mudi dipasang di berbagai sudut di Rumah Pohon Temega juga Batu Dawa. Salah satunya mengajak anak muda untuk menghormati kesucian hubungan yang sebaiknya dirintis dengan niat baik melalui jalur pernikahan.

"Cinta sejati bukan dari nafsu, tapi dari hati," kata Komang.

Seluruh pengunjung yang memasuki kawasan terlebih dahulu diingatkan untuk menjaga sikap, dilarang bermesraan, bahkan suami istri sekalipun. Ini dilakukan supaya tak ada celah untuk perbuatan melanggar etika.

Wisatawan dan pohon bisa saling mengembangkan kasih sayang. Interaksi dengan sesama makhluk hidup, lingkungan, dan Tuhan yang lebih dikenal dengan konsep Tri Hita Karana diaplikasikan di rumah pohon ini.

Komang mengatakan orang terkadang hanya memahami agama, namun lupa dengan apa yang diinginkan Tuhan bahwa manusia bisa hidup harmonis dengan alam. Manusia tetap bisa beraktivitas, bersenang-senang, berwisata, tanpa harus merusak alam.

Pemanasan global, kata Komang terjadi karena manusia merasa paling berhak menguasai alam. Semua makhluk Tuhan berhak hidup di Bumi. Konsep inilah yang dipraktikkan di Rumah Pohon Batu Dawa, di mana pengunjung diajarkan tak perlu risih dengan semut, ulat, bahkan nyamuk di sekitarnya.