Jumat , 13 October 2017, 17:03 WIB

Pekon Rigis Jaya Dikembangkan Jadi Kampung Kopi

Red: Yudha Manggala P Putra
Antara/Irwansyah Putra
Pekerja memasak kopi jenis robusta secara tradisional. Ilustrasi
Pekerja memasak kopi jenis robusta secara tradisional. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, LAMPUNG BARAT -- Pekon Rigis Jaya merupakan salah satu kawasan yang dinilai sebagai penghasil kopi terbaik di Lampung Barat. Daerah di Kecamatan Air Hitam ini pun kemudian dikembangkan sebagai kampung kopi, yang tidak hanya menjadi destinasi wisata, tapi juga sarana edukasi.   

"Kami mengembangkan pekon ini menjadi kampung kopi, selain tempat wisata tapi juga edukasi bagi pengunjung dan petani kopi," kata Kabid Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan Lampung Barat, Suhartono di Rigis Jaya, Jumat (13/10).

Kampung kopi tersebut rencanya diresmikan pada 2018. Nantinya, kawasan ini akan dijadikan pusat sekolah kopi yang meliputi pendidikan, pengembangan, dan destinasi wisata.

Lampung Barat merupakan etalase kopi robusta di Lampung khususnya dan umumnya di Tanah Air. Lampung Barat menurutnya, juga penyumbang sekitar 60 persen ekspor kopi daerah setempat.

Kepala Pekon Rigis Jaya Suhartoyo mengatakan pihaknya memanfaatkan hutan kemasyarakatan untuk dijadikan kampung kopi. "Luas Hkm yang dikelola oleh warga Rigis Jaya sekitar 205,9 hektare," jelasnya.

Pihaknya juga telah menyiapkan lahan untuk sekokah kopi, namun perlu ada pembenahan infrastruktur. "Nanti di sini ada beberapa gazebo dan tempat mengopi yang akan dibangun. Sekolah kopi akan memberi pemahaman masyarakat sebab masih banyak informasi yang rancu terhadap bagaimana menanam dan meningkatkan kualitas dan kuantitas kopi," jelasnya.

Kopi merupakan komoditas yang menyumbang PDRB Lampung Barat sebesar 26 persen. Sekolah kopi akan memberikan pengetahuan spesifik. Selain itu menciptakan generasi handal yang mampu mengelola kopi sebagai upaya regenerasi.

Suhartoyo berharap berbagai pihak mendukung pengembangan kampung ini melalui CSR (corporate social responsibility)-nya. Itu mengingat keterbatasan anggaran, sumber daya manusia dan infrastruktur sangat diharapkan oleh petani.

Sumber : Antara