Jumat , 13 Oktober 2017, 16:35 WIB

Air Terjun Cipendok Sepi Wisatawan Akibat Air Keruh

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Yudha Manggala P Putra
Wikipedia
Curug Cipendok
Curug Cipendok

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Objek wisata air terjun Cipendok yang berada di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, belakangan makin sepi dari pengunjung. Keruhnya air terjun menjadi salah satu penyebabnya.

''Sebelum proyek PLTPB dikerjakan, air terjun Cipendok ini airnya sangat jernih. Namun setelah proyek berlangsung, airnya menjadi sangat keruh. Hal ini menyebabkan wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata ini turun drastis,'' jelas Pengelola Air Terjun Cipendok Krusharto, Jumat (13/10).

Dia menyebutkan, kondisi air terjun yang keruh ini, berlangsung sejak akhir tahun silam, atau sejak proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTPB) yang sedang dilaksanakan di lereng selatan gunung Slamet, dikerjakan. ''Memang tidak selalu keruh. Pada musim kemarau, air menjadi agak jernih. Namun bila musim hujan tiba, pasti airnya menjadi sangat keruh,'' jelasnya.

Menurutnya, keruhnya air terjun Cipendok, tidak hanya sekadar berwarna cokelat. Tapi memang benar-benar keruh pekat, karena bercampur dengan lumpur. Hal ini juga menyebabkan, batu-batuan alam yang ada di dasar air terjun juga menjadi cokelat. Demikian juga pepohonan yang ada di sekitarnya.

Terakhir, air terjun yang bercampur lumpur terjadi pada akhir September hingga awal Oktober 2017 ini.''Informasinya, hal ini karena terjadi longsor di sekitar proyek PLTP Baturraden yang kemudian masuk ke aliran air menuju Curug Cipendok,'' katanya.

Dijelaskan, air yang menjadi air terjun Cipendok merupakan aliran dari pertemuan dua sungai di bagian hulu, yakni sungai Tepus dan sungai Prukut. Yang sering menyebabkan keruh, adalah aliran air dari Sungai Tepus karena aliran airnya berdekatan dengan lokasi proyek.

Dia menyebutkan, setelah air terjun Cipendok sering keruh, wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata yang dikelola Perhutani ini menurun drastis. Bila dihitung sejak awal tahun 2017, potensi kunjungan wisatawan yang hilang sudah mencapai sekitar 10 ribu orang. ''Tahun lalu sebelum ada masalah air keruh, pengunjung curug hingga akhir September mencapai 45 ribu orang. Namun tahun ini, jumlah pengunjung pada periode yang sama hanya 35 ribu orang,'' jelasnya.

Berkurangnya jumlah pengunjung ini, menurut Krusharto, karena keindahan alam berupa jernihnya air terjun sudah tidak ada lagi. ''Jatuhnya air terjun ke dasar sungai, membuat kabut embun di sekitarnya. Kalau airnya jernih, pengunjung akan merasa senang bahkan yang sekalian bermain air. Tapi setelah airnya keruh, pengunjung sudah tidak mau lagi mendekat,'' katanya.

Keruhnya air sungai juga menyebabkan banyak warga sekitar kesulitan mengelola matapencahariannya. Antara lain bagi warga yang mengelola budi daya ikan dengan menggunakan sumber air tersebut.