Kamis , 09 February 2017, 17:33 WIB

Tantangan Bagi Wisata Perbatasan

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yudha Manggala P Putra
Republika/ Wihdan
Tanda Perbatasan Indonesia-Malaysia di kawasan Saparan, Bengkayang, Kalimantan Barat, Kamis (28/1).  (Republika/Wihdan)
Tanda Perbatasan Indonesia-Malaysia di kawasan Saparan, Bengkayang, Kalimantan Barat, Kamis (28/1). (Republika/Wihdan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia memiliki lokasi-lokasi di perbatasan yang berpotensi untuk menarik minat wisatawan negara tetangga. Setidaknya ada 92 pulau terdepan yang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga yang bisa dikembangkan.

Di antaranya di DI Aceh Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur dan sebagainya. Wilayah-wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste dan Australia.

Untuk  meningkatkan potensi wisata di daerah perbatasan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI telah lama menyelenggarakan program, Cross Border Tourism atau wisata di perbatasan.

Menurut Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Luar Negeri Kemenpar, I Gde Pitana, pelaksanaan program ini tidak hanya dilatarbelakangi dari kondisi perbatasan di Indonesia. Tapi hal demikian sudah umum dilakukan negara-negara lain.

“Pengalaman negara lain seperti Perancis yang jumlah wisatawan lintas batas negaranya sangat tinggi, baik dari Belanda, Belgia dan sebagainya,” ujar Pitana saat ditemui Republika di Universitas Prasetya Mulya Cilandak, Jakarta, Kamis (9/2).

Pada umumnya, Pitana menilai, potensi wisata di tanah perbatasan sangat besar dan luar biasa. Indonesia punya banyak hal yang tidak dimiliki negara lain. Seperti halnya budaya Suku Dayak yang tidak ada di Malaysia maupun Brunei Darussalam, melainkan hanya terdapat di Kalimantan. Pemandangan alam wilayah perbatasan juga tak kalah hebatnya. Belum lagi dengan wisata di Batam maupun Pulau Bintan yang tidak ada di Singapura. “Mereka akan senang kalau menyelam di sana,” tambah dia.

Namun di antara semua hal itu, Pitana tidak menampik, acap menemukan kendala dan tantangan di lapangan. Salah satunya, yakni kendala pada aspek amenitasnya atau kenyamanan. Banyak wisatawan seperti Singapura dan Malaysia yang tak kebagian tempat penginapan di Pulau Bintan saat hari libur.

Demikian pula warga masyarakat Kuching, Malaysia saat mengunjungi Entikong, Kalimantan Barat. Begitu pun saat wisatawan Dili, Timor Leste hendak menikmati wisata di Anambua, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Hotel banyak yang belum memadai,” ujar Pitana.

Dengan adanya program Cross Border Tourism (CBT), Pitana mengatakan, diharapkan dapat memajukan ekonomi di perbatasan. Geliat orang yang datang nantinya bisa menumbuhkan jumlah warung, pasar, pedagang, dan penginapan. “Apapun bentuk penginapannya, bisa hotel, homestay dan rumah tinggal yang semua itu bayar semoga dapat meningkat,” tegas dia.

Pakar Pariwisata dari Universitas Gajah Mada (UGM), Profesor HM Baiquni mengatakan, selain masalah amenitas, akses yang mudah juga sangat dibutuhkan dalam meningkatkan wisata perbatasan. Selain itu,  masalah keamanan juga penting untuk diperhatikan.

Agar wsata perbatasan semakin berkembang, Baiquni menyatakan, pemerintah pusat maupun daerah mau tidak mau harus bekerjasama linta sektor. “Seperti dengan kamaritiman maupun kelautan, industri dan sebagainya. Dan jangan lupa untuk angkat kebijakan di wilayah tersebut yang akan bantu wisata di sana,” ujar dia.