Ahad , 12 November 2017, 16:02 WIB

Belajar Jempirangan di Tepi Telaga di Sangurejo

Red: Gita Amanda
Antara/Andreas Fitri Atmoko
Jemparingan atau panahan tradisional gaya Mataram.
Jemparingan atau panahan tradisional gaya Mataram.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN - Sensasi salah satu Desa Wisata di wilayah Kabupaten Sleman ini tidak terdapat di tempat lain. Para tamu Desa Wisata ini bisa mendapatkan pengalaman unik yang bisa menjadi kenangan sepanjang masa. 

Di Desa Wisata Sangurejo, Wonokerto, Turi, Sleman ini wisatawan bisa menikmati sensasi memanah tradisional gaya Mataraman atau biasa disebut jemparingan. Dengan didampingi pemandu yang mendapat pengakuan dari Keraton Yogyakarta, wisatawan yang mencoba permainan ini bisa langsung praktik. Jemparingan di Desa Wisata Kawi Gesang Sangurejo ini ada di bawah "supervisi" KRT Ali Mustofa dan pelatih Suryadi.
 
Wisatawan bisa menyewa pakaian tradisional lengkap dengan blangkon atau iket gaya Yogyakarta. Dengan pakaian tradisional itu, wisatawan kemudian dipandu untuk duduk di atas tikar. Duduk dengan posisi bersila untuk laki-laki dan bersimpuh untuk yang perempuan. Posisi badan menghadap ke Selatan. 
 
"Kalau Gaya Jogja harus menghadap ke Selatan dengan sasaran ada di sebelah Timur. Badan harus tegak karena melambangkan sikap seorang ksatria. Tidak boleh kelihatan loyo," ujar Eko, pemandu Jemparingan Desa Wisata Kawi Gesang Sangurejo sembari memberi contoh posisi yang seharusnya.
 
Lokasi Jemparingan yang berada di selatan kantor Sekretariat Desa Wisata ini ada di tepi Telaga Desa atau Embung‚Äč Kali Aji. Ini menambah sensasi alami. Rerimbunan pohon, air telaga yang tampak jernih, embusan angin semilir, membawa masuk ke dalam suasana desa yang nyaman dan tenteram. 
 
Tidak hanya Jemparingan, seni tradisi beladiri pencak silat juga bisa menjadi pilihan bagi tamu. Silat tradisi Satria Tama di desa ini sudah menjadi anggota Paguyuban Pencak Silat Yogyakarta. "Selain menjadi atraksi wisata yang disuguhkan kepada para tamu, pencak silat ini juga bisa diajarkan ke tamu-tamu yang berminat," ujar Ketua Desa Wisata Sangurejo Andi Jayaprana.
 
Jemparingan dan pencak silat itu, menurut Andi, hanya sebagian dari atraksi seni budaya andalan di Sangurejo. Atraksi seni budaya lainnya adalah Badui, keroncong, Tari Ramayana dan hadroh. 
 
Tamu di Desa Wisata Sangurejo ini kebanyakan komunitas, pelajar, organisasi pemuda dan mahasiswa. Di catatan kas Desa Wisata terlihat komunitas mobil Suzuki pernah datang sebanyak 350 mobil, klub Zebrakarta (90 mobil), SOC Suzuki (50 mobil), dan Daihatsu Charade (50 mobil). 
 
Dari sekolah tercatat SMK Tempel (160 peserta), SMP Muhammadiyah 1 Sleman (200 orang). Lalu Makrab UIN Sunan Kalijaga Jogja (100 org), UNY (300 org), AKRB (150 org), UWMY (120 org), dan sebagainya. Mahasiswa dari UIN dan AKRB menjadi tamu yang berulang di Desa Wisata ini. 
 
Desa Wisata ini juga pernah menjadi tempat berkumpulnya 1.000 suporter PSS Sleman melakukan aksi bersih desa. Lapangan yang luas dengan joglo dan panggung terbuka, menjadi tempat yang pas bagi para anak muda berkumpul. 
 
Mereka bisa mendirikan tenda di tanah lapang di tepian Embung atau menginap di homestay yang terus dikembangkan. "Sekarang masih delapan rumah yang siap menjadi homestay. Daya tampungnya bisa 100 orang," urai Andi.
 
Ketersedian homestay yang masih sedikit bisa dipahami karena desa wisata ini baru berdiri setahun yang lalu. Kendati begitu, progres perkembangannya cukup baik. Desa wisata yang di usia sembilan bulan menjadi pemenang kedua Festival Desa Wisata Kabupaten Sleman 2016 untuk kategori Tumbuh ini, kini telah masuk menjadi kategori Berkembang.
 
Penamaan Kawi Gesang mengacu pada posisi wilayah ini. Kawi Gesang singkatan dari Kampung Wisata Gerbang Sangurejo. "Diilhami dari nilai filosofis Kawiwitan Gesang atau awal kehidupan. Kami mengajak masyarakat di sini untuk mengenali potensi yang ada. Kami yang awalnya bernama Kampung Wisata, mengikuti branding keseragaman Forum Desa Wisata Kabupaten Sleman menjadi Desa Wisata. Lengkapnya Desa Wisata Kawigesang Sangurejo," tambah Andi.
 
Mengambil nama Gerbang karena Sangurejo merupakan dusun paling Selatan dari Desa Wonokerto. "Kami mencita-citakan mampu menjadi gerbang masuk untuk kemajuan," tegas pria yang menyandang gelar sarjana psikologi ini. 
 
Komitmen kemajuan Desa Wisata Sangurejo pun sudah dimasukkan dalam prioritas pengembangan obyek dan fasilitas wisata. Hasil Musrenbang Desa Wisata 2017, menegaskan adanya pembangunan brand kawasan sebagai spot selfie yang dibangun Desember 2017 ini. Juga penambahan kamar mandi sebagai amenitas baru untuk wisatawan.
 
Kemudian pada Kompleks Gondang, ada di tengah kampung, ada pembuatan Taman Air Gondang. "Kami launching saat ulang tahun kedua, Maret 2018. Kami juga sedang membangun perengan sungai sebagai panggung yang atraktif. Sehingga program Susur Sungai lebih atraktif. Panggung di atas sungai ini juga untuk pentas pencak silat," jelas Andi menunjukkan rencana lokasi pembangunan.
 
Dengan pengembangan obyek wisata ini, berbagai paket wisata yang telah berjalan selama ini akan semakin keren. Outbond, trekking sungai, fun games, wisata Salak Pondoh maupun workshop seni budaya makin mengasyikkan. 
 
Dengan keberadaan Desa Wisata Sangurejo ini, Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan Kecamatan Turi menyumbang satu lagi destinasi wisata bagi Kabupaten Sleman. "Terus bertambahnya Desa Wisata di Sleman adalah bentuk komitmen Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Sleman  untuk mendukung penuh dan memfasilitasi keberadaan Desa Wisata dalam upaya mendongkrak potensi lokal," tegas Sri Purnomo. 
 
Memanah memang menjadi atraksi yang cukup mengundang perhatian wisatawan. Ini juga sedang dilakukan sebagai atraksi terbaru Pasar Karetan #RadjaPendapaCamp di Duaun Segrumung, Meteseh, Boja, Kendal, 12 November 2017 nanti. 
 
“Panahan jika berdiri sendiri sebagai sport, tidak akan banyak mengundang perhatian publik. Tetapi kalau sport itu digabung dengan tourism, akan menjadi satu kekuatan atraksi yang menyenangkan. Travellers itu kan suka experiences, dan archery penuh dengan sensasi jika dipraktikkan,” tandasnya.
Sumber : Kemenpar