Jumat , 22 September 2017, 15:31 WIB

JTE 2017 Buka Peluang Air Connectivity dari Jepang

Red: Gita Amanda
japan airlines
japan airlines

REPUBLIKA.CO.ID, JEPANG -- Kabar gembira datang dari perusahaan maskapai penerbangan Japan Airlines (JAL). Maskapai terbesar di Jepang itu kembali akan membuka penerbangan langsungnya ke Indonesia.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana melaporkan hal itu dari Negeri Matahari Terbit, Jepang.

Vice President Network Planning Managing Division JAL Kiyoto Morioka mengatakan, JAL akan mempertimbangkan penerbangan selanjutnya dengan berdasarkan besarnya permintaan. Manajemen JAL juga meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan kembali peraturan yang ada di Indonesia. "Di mana peraturan tersebut memperbolehkan maskapai kami mengangkut penumpang reguler dari Indonesia ke Jepang. Jadi pesawat kami pulangnya tidak kosong," ujar Morioka.

Pernyataan JAL tersebut merupakan hasil dari pertemuan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan manajemen JAL di Nomura Real Estate Building Shinagawa, Jepang, Kamis (21/9) lalu. Rombongan Kemenpar dipimpin langsung oleh Deputi Pemasaran Mancanegara Profesor I Gde Pitana, Staf Ahli Bidang Infrastruktur Pariwisata Kemenpar Judi Rifajantoro, Kepala Bidang Pameran Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pasar Asia Pasifik Kemenpar Ricky Fauzi dan Makiko Iskandar.

Dari pihak JAL hadir Vice President Network Planning Managing Division Kiyoto Morioka, Route Marketing JAL  Noburo Hirai, Vice President International Sales Strategi Japan International Passenger Sales Junichi Uchigasaki, dan Assistent Manager International Sales Strategy JAL.

Pertemuan tersebut bagian dari misi Kemenpar saat mengikuti pameran Japan Tourism Expo (JTE) 2017, yang digulirkan 21-24 September 2017 di Tokyo International Exhibition Center (Tokyo Big Sight), Jepang.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada manajemen JAL yang telah melakukan tiga kali charter flight dari Narita ke Denpasar di Bulan Juni 2017 setelah JAL menghentikan penerbangan tersebut pada tanggal 30 November 2010. Namun dengan pertemuan ini, kami berharap JAL kembali melebarkan sayapnya ke tanah air kami,"ujar Profesor Pitana yang juga diamini Judi.

Pitana menambahkan, bukan hanya Bali yang siap disambangi oleh JAL dengan wisatawan mancanegara (wisman) Jepang, namun juga pihak JAL bisa mempertimbangkan penerbangan reguler dari Jepang ke destinasi Indonesia lainnya. Peluang membuka penerbangan juga bisa dilakukan dari Jepang menuju Lombok dan Labuan Bajo.

"Destinasi kami masih banyak dan sangat indah, yang pastinya membuat masyarakat Jepang tertarik untuk datang. Terkait dengan permintaan pihak JAL, pihaknya akan melihat kembali peraturan tersebut dan akan segera menyampaikan hasilnya kepada pihak manajemen JAL," ujar pria yang biasa disapa Prof Pit itu.

Seperti diketahui, pertemuan dengan pihak JAL juga bagian dari misi Kemenpar di pameran terbesar di Jepang tersebut.

Menurut Kepala Bidang Pameran Asia Pasifik Kemenpar Ricky Fauzi ada tiga konsentrasi misi Kemenpar di ajang pameran tersebut. Ketiga misi itu adalah yang pertama Kemenpar mempromosikan pariwisata Indonesia dengan menebarkan branding Wonderful Indonesia di 10 destinasi prioritas, yang kedua adalah memperluas Air Connectivity Kemenpar melalui pertemuan dengan pihak JAL.

"Dan yang ketiganya adalah pameran dengan mengusung promosi Asian Games 2018, perwakilan industri dan dinas pariwisata dari Sumatera Selatan dan DKI Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games juga hadir di pameran ini," kata Ricky.

Seperti diketahui, Tourism Expo Japan (JTE) 2017 ini merupakan kolaborasi dari Japan Travel and Tourism Association (JTTA), Japan  Association  of  Travel  Agents  (JATA) dan Japan National Tourism Organization (JNTO). Sementara itu, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang Konselor KBRI Jepang Eko Junor sangat memberikan apresiasi tinggi kepada Kemenpar yang selalu konsisten berpromosi di Negeri Sakura Jepang.

Kata Eko, promosi Kemenpar yang sangat agresif sudah membuka budaya internal Jepang dengan cara materi promosi beberapa sudah menggunakan Bahasa Jepang. "Inilah Jepang, mereka akan lebih kena dan lebih mengerti serta lebih efektif lagi jika materi promosi dengan bahasa Jepang. Berbeda dengan negara lain, masyarakat Jepang lebih perduli dengan segala sesuatunya dengan menggunakan bahasanya sendiri. Kemenpar sudah melakukan itu dengan sangat baik," ujar Eko.

Menteri Pariwisata Arief Yahya secara sistematis menggariskan, strategi pengembangan destinasi itu ada 3A. Atraksi, Akses dan Amenitas. Di sisi Akses, ada tiga A lagi yang harus digarap secara profesional. "Airlines, Airport, dan AirNav atau Authority dalam hal ini Kemenhub," kata Menpar Arief Yahya.

Dia menyebut maskapai itu sangat penting, karena 75 persen wisman masuk ke 19 pintu utama Indonesia itu melalui jembatan udara. Maskapai sangat menentukan, karena hanya dengan airlines mereka bisa masuk di negara kepulauan seperti Indonesia. "Seats capacity itulah yang sedang kita kejar, karena awal tahun 2017 saja kita kekurangan empat juta seats, untuk mengejar target 15 juta itu," ujar Arief Yahya.

Sumber : Kemenpar