Rabu , 20 September 2017, 15:46 WIB

Investor Inggris Diajak Investasi di Sektor Pariwisata

Red: Dwi Murdaningsih
Antara/Ahmad Subaidi
Wilayah Mandalika, Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (ilustrasi).
Wilayah Mandalika, Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Indonesia menggelar promosi investasi di ajang Indonesia Briefing di London, Inggris, (19/9). Lewat event yang diinisiasi Kedutaan Besar Indonesia untuk UK dan Irlandia itu, Kementrian Pariwisata mengajak pengusaha benua biru Eropa berdiskusi dan membangun peluang bisnis di sektor pariwisata Indonesia.

Kegiatan itu dihadiri berbagai kalangan dan publik Inggris. Utamanya para stakeholders terkait. Pengusaha pemerintah, media, akademisi dan unsur lainnya, dijadwalkan hadir di even itu. Mereka diberi penjelasan dan pemahaman tentang sektor pariwisata Indonesia yang tengah bergeliat kencang. Sektor yang pertumbuhannya tertinggi di ASEAN, mencapai 20 persen.
 
Para investor dan kalangan pebisnis juga akan dipaparkan tentang natural and resources Indonesia yang berada di urutan 14 terbaik dunia (data World Economic Forum 2017). Sektor pariwisata yang juga akan mendorong sektor lainnya untuk ikutan nimbrung memaparkan semua potensinya.
 
"Acara ini tujuannya memberikan update mengenai kondisi terkini Indonesia, baik di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya serta potensi bisnis di sektor trade, tourism dan investment (TTI)," ujar Hiramsyah S. Thaib, Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata, Selasa (19/9).
 
Hiramsyah mengatakan, peluang investasi di sektor pariwisata di Indonesia sangatlah besar. Sektor pariwisata memiliki berbagai keunggulan yang dipastikan bakal menarik minat investor.
 
Dasarnya ada. Pertama, pariwisata tercatat sebagai penyumbang PDB, devisa dan lapangan kerja yang paling mudah dan murah. Di tahun 2017 pariwisata Indonesia juga menduduki peringkat ke-42 dalam Tourism Competitiveness Index Rangking. 
 
Proyeksi pendapatan negara, berdasarkan data Pusdatin Kemenpar tahun 2014 mengungkapkan bahwa pariwisata menjadi sektor inti dan menjadi sumber devisa tertinggi di tahun 2020 kelak. "Jauh meningkat dibanding sektor minyak dan gas bumi," ujar Hiramsyah.
 
Untuk mengejar target tersebut, Presiden Joko Widodo telah menetapkan bahwa pariwiasta sebagai leading sector yang wajib didukung kementerian lainnya. Realisasinya adalah berupa pembentukan 10 Bali baru atau juga yang dikenal sebagai 10 destinasi pariwisata prioritas dengan formulasi strategi pengembangan 3A. Yakni atraksi, aksesibilitas dan amenitas.
 
Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Mancanegara Kemenpar, I Gde Pitana mengatakan, nantinya yang akan dipaparkan kepada para stakeholers adalah 10 Bali Baru tersebut. Itu artinya, Danau Toba, Sumatera Utara dengan proyeksi performa di tahun 2019 sebanyak 1.600 miliar dolar AS iktu dipaparkan. Begitu juga Tanjung Kelayang, Bangka Belitung, dengan proyeksi performa di tahun 2019 sebanyak 4.000 miliar dolar AS.
 
Setalah itu Kota Tua dan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta-Kepulauan Seribu, dengan proyeksi performa 1.500 miliar dolar AS, Borobudur, Magelang, dengan proyeksi performa 1.500 miliar dolar AS, Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur, dengan proyeksi performa  1.400 miliar dolar AS,
 
Mandalika Lombok dengan proyeksi performa 3.000 miliar dolar AS, juga Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur dengan proyeksi performa 1.200 miliar dolar AS.
 
Kemudian juga Wakatobi di Sulawesi Tenggara, dengan proyeksi performa sebanyak 1.500 miliar dolar AS, Morotai di  Maluku Utara dengan proyeksi performa 2.900 miliar dolar AS.
 
"Implementasi pengembangan 10 Bali Baru tersebut dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak terkait dan terangkum dalam rumus ABCGM, yakni academic, business, community, government, dan media," ujar Pitana.
 
Sementara realisasi investasi di destinasi-destinasi tersebut memiliki perbandingan di mana jumlah investor asing jauh melebihi investor lokal.
 
Sebagai penunjang, Menteri Pariwisata juga telah menetapkan program KEK, atau Kawasan Ekonomi Khusus, dengan menitikberatkan di insentif pajak, import duty dan pajak-pajak tambahan lainnya, serta regulasi industri yang dilibatkan.
 
"Di samping itu, promosi melalui media juga dilakukan sebagai upaya penyebarluasan informasi dan memasarkan program 10 Bali Baru tersebut kepada masyarakat dunia, dengan 2 penghargaan yang diraih sekaligus dalam Kompetisi Video Pariwisata Dunia UNWTO," ujar Pitana.
 
Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut baik acara yang digagas oleh Duta Besar Indonesia untuk UK dan Irlandia Rizal Sukma. Dia pun tak ragu mengundang investor Eropa yang bergerak di sektor pariwisata untuk menanamkan modal ke destinasi yang punya atraksi berbasis alam, budaya dan buatan yang sedang berkembang seperti Indonesia. 
 
“Saat inilah timing untuk investasi jangka panjang di bidang pariwisata. Ini lebih banyak investasi pembicaraanya, memperkenalkan destinasi-destinasi prioritas kita untuk sebagai peluang investasi,” ujar Arief Yahya.
 
Bagi Arief Yahya, pariwisata adalah pintu pembuka trade and investement yang paling efektif. Tourism sebagai driver pada sektor perdagangan dan investasi. “Forum ini intinya mempertemukan mereka para stakeholders untuk kemudian diajak untuk berinvestasi di Indonesia, berdagang dan wisata,” ujar Arief Yahya.
Sumber : Kemenpar