Sabtu , 12 Agustus 2017, 16:03 WIB

Ada Kabar Baik Bagi Pemilik Homestay

Red: Qommarria Rostanti
dok.Istimewa/Kemenpar
Kampung Flory, Homestay Desa Wisata Tanaman Hias dengan Kolam Terapi Ikan.
Kampung Flory, Homestay Desa Wisata Tanaman Hias dengan Kolam Terapi Ikan.

REPUBLIKA.CO.ID JAKARTA -- Kabar gembira bagi Anda pemilik atau pengelola rumah penginapan (homestay)di desa wisata. Pasalnya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akan memberikan penilaian dan apresiasi terhadap homestay desa-desa wisata di Indonesia.

Proses penilaian dilakukan Agustus 2017 hingga pertengahan September 2017. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan September 2017 di Jakarta, bertepatan dengan rangkaian Hari Pariwisata Dunia.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kemenpar, Dadang Rizki Ratman, mengatakan lomba ini merupakan upaya Kemenpar untuk memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah membangun dan mengelola homestay dengan baik. Ini juga bertujuan memotivasi masyarakat agar berlomba dan bersaing menyediakan homestay terbaik bagi wisatawan.

Selain homestay, pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat lokal di tiap-tiap desa wisata juga akan dinilai, baik dari segi operasional maupun manajemennya. "Para pemenang nantinya berhak mengikuti kompetisi homestay dan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat lokal tingkat ASEAN difasilitasi pemerintah," kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Sabtu (11/8).

Dadang menyebut, keberadaan homestay dan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat lokal dinilai sangat berpengaruh terhadap kemajuan pariwisata di destinasi wisata sekitarnya. Untuk itu, perlu diberikan apresiasi.

Homestay masuk dalam urutan kedua dari 10 prioritas Kemenpar. Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenpar, Oneng Setya Harini, mengatakan Kemenpar terus mendorong masyarakat di desa wisata bersama pemerintah daerah. Ini bertujuan agar homestay bisa ditingkatkan karena merupakan pasar potensial. Keberadaan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat lokal juga dinilainya bisa memajukan homestay itu sendiri. Pasalnya pengelolaan dan pemasarannya akan lebih bagus dan terpadu.

“Ketertarikan pengunjung terhadap homestay akan naik dari 10 persen di 2016 menjadi 15 persen di 2020, di kota-kota besar dunia. Dari 2 persen di 2016, menjadi 5 persen di 2020 di Asia Tenggara. Karena itu, homestay kini tidak bisa dianggap remeh,” ujar Oneng.

Homestay sendiri harus memiliki karakter dan kriteria. Terutama homestay harus memiliki atraksi wisata. Memiliki daya tarik wisata khususnya wisata budaya dengan mengangkat kembali arsitektur tradisional Nusantara. Lokasinya yang berada di desa wisata membuat masyarakat dapat berinteraksi dengan masyarakat lokal. “Yang penting lagi, menjadi tempat tinggal yang aman bersih dan nyaman bagi wisatawan, dengan pengelolaan homestay berstandar internasional,” ujarnya.

Oneng mengatakan keunggulan homestay dibandingkan hotel, yaitu proses pembangunannya yang lebih cepat. Lama pembangunan homestay sekitar enam bulan, sedangkan hotel bisa sampai lima tahun. Homestay berbiaya rendah, sedangkan hotel biasanya bertarif mahal. Yang lebih penting lagi, masyarakat lokal di desa wisata menikmati langsung dampak ekonominya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Juri, Vitria Ariani, mengatakan saat ini sudah terdata 53 kabupaten di  Indonesia yang akan diberikan penilaian dewan juri. Para peserta mengirimkan datanya ke dewan juri hingga pertengahan Juli 2017. Setelah data peserta terkumpul, pihaknya akan melakukan penilaian langsung ke lapangan pada periode Agustus 2017 hingga pertengahan September 2017. "Mengingat sebaran wilayah yang luas di Indonesia, kami akan melakukan penyebaran juri untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan efektif,” ujar Vitria.

Dia mengatakan ada tiga aspek utama yang dinilai dari homestay, yang pertama terkait produknya, kedua terkait pelayanannya dan ketiga bagaimana pengelolaannya. "Aspek tersebut kami jabarkan dalam 12 kriteria dan 37 sub-kriteria penilaian agar mendapatkan hasil penilaian yang detil dan berkualitas," ujarnya.

Untuk penilaian pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat lokal, dewan juri mengacu pada standar ASEAN. Ada beberapa kriteria utama penilaian, yakni bagaimana kepemilikan dan kepengurusannya oleh masyarakat, kontribusinya terhadap kesejahteraan sosial, kontribusinya untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan, dan bisa mendorong terjadinya partisipasi interaktif antara masyarakat lokal dengan wisatawan. "Dan yang tidak kalah pentingnya bagaimana kualitas kulinernya,” kata Vitri.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya, menyambut baik apresiasi yang diberikan untuk pengelola homestay dan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat lokal. Menurut dia, di era serba digital, industri pariwisata harus mengikuti perkembangan, termasuk soal pengelolaan homestay, yang diharapkan kelak bisa menjadi yang terbaik di dunia. "Dengan perkembangan homestay desa wisata yang terus menggeliat. Homestay memang menjadi prioritas utama Kemenpar, setelah go digital dan air connectivity. Target kami terbangun 100 ribu homestay di 2019," ujarnya.

Sumber : Kemenpar