Kamis , 10 August 2017, 15:17 WIB

Pemerintah Gaet Malang Strudel Angkat Pamor Wisata Indonesia

Red: Qommarria Rostanti
malangstrudel.com
Penggagas Malang Strudel, Teuku Wisnu.
Penggagas Malang Strudel, Teuku Wisnu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Co-branding Wonderful Indonesia kian menguat. Semua lini, semua sektor, pemerintah dan non-pemerintah, bergerak bersama membangun merek nasional di pariwisata, Wonderful Indonesia.

"Itu menunjukkan, brand Wonderful Indonesia yang dipopulerkan Kemenpar semakin kuat. Swasta tidak akan mau, kalau brand yang hendak dikolaborasi dengan produknya tidak kuat. Mereka juga menyadari, ketika kuat ketemu kuat, maka hasilnya akan menjadi kuat sekali," kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya, dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (10/8).

Menurut dia, merek Wonderful Indonesia yang kuat itu menarik berbagai pihak. Itulah mengapa Malang Strudle juga berminat melakukan co-branding dengan pariwisata Indonesia. "Silakan, ramai-ramai, para industri untuk co-branding dengan Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia," ujarnya.

Arief berterima kasih kepada semua pihak yang mengawali co-branding dengan Wonderful Indonesia. "Saya senang, banyak kawan-kawan pengusaha yang siap dengan program promosi bersama co-branding ini. Semakin kuat spirit Indonesia Incorporated," kata Arief.

Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuti, mengatakan, kuliner tradisional merupakan produk lokal yang mempunyai nilai penting bagi sektor pariwisata. Kontribusi kuliner lokal ini dinilainya cukup signifikan. Pasalnya panganan khas mampu memberi pengalaman baru ketika datang ke suatu tempat dan bisa menjadi daya tarik untuk berkunjung kembali.

Esthy mengatakan perkembangan produk lokal sudah seharusnya menjadi tugas pemerintah agar bermacam menu tradisional bisa dikenal luas. "Hal-hal seperti ini menjadi tugas utama kami dalam mengomunikasikan kuliner melalui pariwisata, serta menggairahkan kembali makanan tradisional jadi sesuatu yang bernilai,” ujar Esthy.

Dengan mengusung oleh-oleh kekinian khas Malang, Malang Strudel juga membawa misi mempromosikan Malang sebagai destinasi wisata yang luar biasa. Hampir setiap pekan Malang Strudle memproduksi konten video di Youtube yang mengangkat destinasi-destinasi unggulan di kawasan Malang.

Selain membawa aneka keripik, wisatawan yang berkunjung ke Malang juga seolah 'wajib' memboyong produk Malang Strudle untuk dijadikan buah tangan. "Kualitas makanan, cita rasa, cara penyajian, kemasan, inovasi, tampilan hingga daya tahan makanan sangat cocok untuk dijadikan oleh-oleh,” kata dia.

CEO Malang Strudle, Donny Kris bersama Teuku Wisnu yang menjadi pencetus Malang Strudel, mengatakan strudel memang bukan makanan khas Indonesia. Strudel merupakan kue sejenis pastry yang berasal dari Austria, Jerman. Strudel merupakan salah satu makanan penutup yang paling umum dikonsumsi oleh masyarakat Jerman. Mereka seringkali menyebutnya dengan nama Apfelstrudel atau Apple Strudel.

Ide pembuatan strudel ini pertama kali muncul saat Teuku Wisnu dan istrinya, Shireen Sungkar, berjalan-jalan ke Eropa. Saat itu, keduanya menyukai strudel dan akhirnya membawa makanan ini sebagai oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia. "Tak lama kemudian, Wisnu sering mengunjungi Malang dan terlintas bahwa mungkin akan menarik jika membuat strudel khas Malang,” ujar Donny.

Malang Strudel memiliki tujuh varian rasa. Mulai dari apel, keju, coklat pisang, stroberi, nanas, jeruk, dan campuran buah. Harganya juga cukup terjangkau. Satu kotak strudel ini dibandrol dengan harga Rp 45 ribu. Uniknya lagi, strudel hanya bisa ditemukan di Malang. Jadi, tak heran jika strudel ini diberi nama Malang Strudel.

Sejak dibuka 20 Desember 2014 lalu, banyak komentar positif tentang rasa lezat Malang Strudel. "Banyak pula pesanan dari luar kota, namun mohon maaf Malang Strudel hanya bisa dibeli di kota Malang agar kue ini juga bisa menjadi khas kota Malang yang tidak dijual di kota lainnya. Ayo wisata ke Malang dan jangan lupa mampir di gerai kami ya,” kata Donny.

Sejauh ini, 20 merek sudah siap melakukan perjanjian kerja sama (MoU). Semuanya terbagi dalam dua kategori mitra makanan dan non-makanan. Merek-merek tersebut antara lain JJ Royal, Martha Tilaar, Polygon, Sahid Group, Tiket.com, Alleira Batik dan Gaia, Sunpride, Sarinah, Rumah Zakat, Sido Muncul, Sekar Group, Krisna Oleh-oleh, Secret Garden , Achilles, Sababay Wine, Bon Gout, Batik Trusmi, Dapur Solo, Malang Strudle dan Garuda Food.

Sumber : Kemenpar