Ahad , 18 June 2017, 11:55 WIB

Tiga Gili di Lombok Kompak Perangi Sampah

Red: Dwi Murdaningsih
Antara/Ahmad Subaidi
Sepasang wisatawan memperhatikan siluet Gunung Rinjani saat Sunrise (matahari terbit) di pinggiran pantai Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Jumat (24/2).
Sepasang wisatawan memperhatikan siluet Gunung Rinjani saat Sunrise (matahari terbit) di pinggiran pantai Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Jumat (24/2).

REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK UTARA – Tiga Gili di Lombok— Gili Trawangan, Gii Meno, Gili Air – kompak. Ketiganya fokus mempersiapkan apa saja yang harus dibenahi baik fisik maupun non fisik, menjelang IMF-World Bank Annual Meeting 2018 di Bali bulan Oktober 2018 nanti. Salah satu fokus yang ingin dibenahi adalah sampah.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sampah merupakan bahaya laten bagi Pariwisata Indonesia, karena itu harus dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Sampah menjadi salah satu titik krusial yang dipantau World Economic Forum, Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI).

"Sekali rusak di sektor ini, rusak pula wajah dan daya saing kepariwisataan kita,” kata Menpar Arief Yahya.  

Persoalan itu dinilai sangat mendesak mengingat Bali akan dikunjungi delegasi ‘gemuk’. Untuk delegasi saja, ada 15-18 ribu orang yang masuk ke Pulau Dewata Bali secara bersamaan. Itu belum termasuk wisatawan regular yang setiap hari ada 14 ribu-15 ribu orang per hari. Nah, jumlah sebesar itu kalau numpuk di Bali, bisa over capacity di Pulau Dewata itu, yang berujung pada ketidak nyamanan wisatawan mancanegara. Karena itu harus ‘dipecah’ ke beragam destinasi, salah satunya di Lombok.

“Kita tak ingin itu terjadi. Lombok, terutama tiga Gili harus jadi tuan rumah yang terbaik.  Karenanya semua potensi masalah yang terkait sampah harus diantisipasi sejak dini,” kata Ketua Pokja Percepatan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas Hiramsyah S. Thaib.

Dia mengatakan, permasalahan sampah di tiga Gili membutuhkan perhatian serius dari pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU). Penanganannya harus cepat. Tak boleh ditunda-tunda lagi. “Kami menjelaskan secara singkat tentang kegiatan Annual Meeting IMF World Bank 2018 kepada Bupati dan mengharapkan dukungan penuh dari Pemkab KLU. Intinya tiga Gili harus bersih dari sampah. Karena spot-spot itu menjadi destinasi wisata peserta Annual Meeting IMF World Bank 2018 ,” ujar Hiramsyah.

Penataan serta pembersihan Roi Pantai di seputaran tiga Gili juga menjadi perhatian khusus. Semua akan dibenahi agar spot ruang eksotis di sekitar Gili makin luas. Pembersihan puing-puing bangunan paska penertiban tetap dilakukan sampai semua puing bangunan yang ada sudah bersih semua. Saat ini Dispar KLU sedang menyusun PerBUP terkait penataan Roi Pantai di Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.

Menanggapi hal itu, Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar menjelaskan bahwa saat ini Pemkab KLU, saat ini sedang mempersiapkan langkah-langkah solutif terkait masalah Sampah di tiga Gili. Caranya, dengan dilakukan pembebasan tanah seluas 25 are di Gili Air dan Gili Meno, dan 50 are di Gili Trawangan sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

“Tentang Sampah di KLU dan tiga Gili, status tanah TPA yang sudah dibeli seluas 4 hektare pada tahun 2011. Lahannya akan segera disertifikasi oleh BPN KLU. Yang menjadi kendala adalah jalan masuk ke kawasan TPA yang di dusun Jugil Desa Sambik Bangkol kecamatan Gangga,” ujar Najmul Akhyar.

Pembangunan Mandi Cuci Kakus (MCK) juga menjadi perhatian pemeritah setempat. “Untuk masalah MCK, akan ada Bantuan dari Dinas Provinsi NTB yang ingin membangun MCK di kawasan Wisata Malimbu serta tiga Gili. Poltekpar Lombok juga siap memberikan pelatihan terhadap para pengelola MCK tersebut,” ujarnya.