Senin , 20 March 2017, 07:36 WIB

Belajar Tari Klasik Bisa Dorong Percaya Diri Anak

Rep: Rizma Riyandi/ Red: Yudha Manggala P Putra
Penampilan para penari anak-anak dalam tari kolosal 'Tranformasi Panji' pada Gunungan International Mask and Puppetes Festival di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Ahad (25/5). (Republika/Edi Yusuf)
Penampilan para penari anak-anak dalam tari kolosal 'Tranformasi Panji' pada Gunungan International Mask and Puppetes Festival di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Ahad (25/5). (Republika/Edi Yusuf)

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Masa kanak-kanak merupakan masa pembentukan kepribadian seseorang menuju tahap remaja dan dewasa. Anak-anak relatif mudah belajar dan menyerap nilai melalui praktik.

Banyak nilai-nilai positif yang bisa ditularkan ke anak-anak lewat aktifitas ekstrakulikuler yang positif. Belajar tari klasik dan tradisi salah satunya. Bahkan tari klasik dapat menjadi salah satu media pembelajaran nilai yang menarik bagi anak-anak.

Sayangnya saat ini semakin sedikit orang tua modern yang tertarik mengenalkan tarian warisan tersebut pada anak-anak mereka. "Padahal lewat tari klasik anak dapat belajar untuk menjadi pribadi yang luwes dengan kondisi lingkungan dan lebih percaya diri ketika tampil di depan umum," tutur pakar psikologi perkembangan anak UII, Irwan Nuryana Kurniawan, Senin (20/3).

Menurutnya, orangtua memiliki peran penting untuk mendorong anak agar mereka lebih percaya diri. Hal itu dapat dilakukan dengan memberikan apresiasi kepada anak atas aktifitas positif yang dilakukan.

Seperti ketika anak mengikuti les tari klasik, ia akan berinteraksi dengan berbagai orang yang ada di lingkungan tersebut, seperti guru/mentornya, teman-teman sebaya, dan orang yang menonton tarian. Dari situ mereka akan merasakan pengalaman positif berupa apresiasi dari orang sekitar ketika berhasil melakukan gerakan-gerakan tertentu dalam tari yang semula tidak bisa dilakukannya.

Kepala Pusat Studi Anak dan Keluarga (Puskaga) UII itu mengatakan, pengalaman-pengalaman positif tersebut jika terus diulang dan dirasakan akan turut membentuk kepribadian anak yang lebih percaya diri untuk tampil di depan umum. Sikap tersebut tentunya dapat menjadi modal penting anak ketika ia berada di lingkungan baru.

Anak pun menjadi relatif lebih mudah menyesuaikan diri dengan perubahan di sekitarnya. Meski demikian, Irwan mengatakan, nilai paling berharga yang dapat dipetik anak ketika belajar tari klasik adalah tentang mencintai budaya lokalnya dan keluwesan.

Seni tari klasik memang sarat dengan pelajaran-pelajaran budaya yang disisipkan lewat gerakan. Salah satunya adalah nilai keluwesan di mana penari dituntut dapat menggerakkan tubuhnya secara alami mengikuti alunan suara gamelan.

Semakin luwes ia menggerakkan tubuhnya dianggap semakin mahir. Hal ini mengandung makna di mana seseorang harus dapat bersikap luwes dalam berinteraksi dengan orang dari berbagai macam latar belakang.

Oleh karena itu, orangtua harus tidak kenal lelah dan bosan menyampaikan tentang alasan mengapa si anak diajak ikut les tari. Begitu juga pemaknaan-pemaknaan yang terkandung dari tari yang dipelajari.  "Sampaikan nilai-nilai yang ada dengan sederhana menggunakan bahasa anak-anak tentunya. Kalau tidak disampaikan ya sama saja, malah anak bisa menganggap tari sebagai rutinitas yang membosankan," ujar Irwan.