Kamis, 9 Ramadhan 1439 / 24 Mei 2018

Kamis, 9 Ramadhan 1439 / 24 Mei 2018

Cold Brew Coffee Jadi Alternatif Kafein tanpa Mulas

Senin 14 Mei 2018 18:06 WIB

Rep: Noer Qomariah K/ Red: Indira Rezkisari

Ada beragam cara mengolah kopi, khusus kopi dingin teknik cold brew menghasilkan rasa yang secara alami lebih manis.

Ada beragam cara mengolah kopi, khusus kopi dingin teknik cold brew menghasilkan rasa yang secara alami lebih manis.

Foto: pexels
Cold brew memiliki kadar kafeina lebih rendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jangan buru-buru meletakkan cangkir kopi apabila memiliki penyakit mag. Kini cold brew coffee bisa menyajikan kafeina tanpa menyakiti lambung.

Cold brew coffee merupakan salah satu teknik mengolah kopi. Yaitu, kopi direndam dalam air dingin atau disimpan dalam suhu ruangan selama 12 hingga 24 jam untuk menghasilkan konsentrasi esensi kopi. Esensi ini diencerkan secukupnya dan dapat disajikan dalam keadaan panas dan dingin.

Cold brew coffee juga bisa disimpan di kulkas hingga dua pekan atau dibekukan untuk waktu yang lebih lama tanpa mengubah rasa. Pembuatan kopi tergantung berbagai faktor, seperti volume air, suhu air, ukuran partikel kopi, dan waktu penyeduhan.

Komposisi akhir seperti rasa, aroma, dan senyawa bioaktif dari cold brew bergantung pada waktu penyeduhannya. Cold brew dipercaya lebih memiliki tekstur halus dibandingkan kopi biasa.

Seperti dikutip the Indian Express, Senin (14/5), cold brew dapat ditelusuri kembali pada era 1600, ketika para pedagang Belanda mencari cara menghasilkan kopi yang dapat diangkut dengan mudah. Cold brew memiliki keunggulan dibandingkan kopi biasa karena kandungan kafeinanya dan kadar asamnya yang lebih rendah.

Cold brew dipercaya memiliki kandungan kafeina sekitar 40 mg/100 gram dibandingkan sekitar 60 mg/100 gram kopi biasa. Minuman ini dikenal memiliki pH 6,3 dibandingkan dengan kopi panas yang diseduh.

Banyak orang yang sadar kesehatan beralih ke cold brew coffee untuk mendapatkan kafeina tanpa rasa mulas. Meskipun minuman ini makin populer, banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk memvalidasi manfaat kesehatannya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES