Sabtu , 18 March 2017, 11:12 WIB
Semarakkan Bali Foof Festival

'Huangying Guanglin' Bernuansa Bali Ada di Beijing

Red: Agus Yulianto
Kuliner bali info
Nasi Ayam Betutu Men Tempeh (Ilustrasi)
Nasi Ayam Betutu Men Tempeh (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  Ucapan "huanying guanglin" (selamat datang, red) yang keluar dari bibir berpoles gincu merah menyala, sekilas tidak sinkron dengan kedua telapak tangan merapat di bawah dagu deretan pagar ayu menyambut kedatangan para tamu.

Kebaya tipis yang samar-samar menutupi dalaman atas para gadis itu, juga tidak sepatutnya dikenakan karena cuaca di bawah angka 10 derajat Celcius masih leluasa menembus tulang.

Walau begitu, kain bermotifkan batik yang melilit di bawah pinggang hingga mata kaki menambah keluwesan para pramusaji yang mendatangi satu-persatu meja para tamu untuk menawarkan menu istimewa.

Pemandangan itu, lain dari biasanya, tatkala para pramusaji di salah satu hotel berbintang di Beijing itu menanggalkan pakaian tradisionalnya yang didominasi warna merah lalu menggantinya dengan kebaya putih.

Selain mengusung pernik-pernik tradisi Bali sekaligus mendandani para pramusajinya layaknya gadis Pulau Dewata, pihak Hotel JW Marriott juga memboyong juru masak dari Indonesia untuk memanjakan tamunya menjelang pergantian musim.

Tentu saja, untuk sebuah jaringan yang mengglobal, bukan hal sulit bagi Marriott untuk mendatangkan koki andalan guna menyemarakkan "Bali Food Festival" di Beijing pada 10-26 Maret 2017.

Selama periode tersebut, ketiga koki, yakni I Made Karyasa, Billy Oktorina, dan Sandy Putra Pernama dipinjam dari Ritz Carlton, Nusa Dua, Bali, oleh Marriott yang beroperasi di salah satu pusat keramaian ibu kota Cina itu.

Ketegangan di balik dapur

Karyasa dan kedua rekannya tentu tidak menyangka jika kehadirannya di Beijing untuk yang pertama kalinya itu mendapatkan sambutan yang luar biasa. Ketiganya dielu-elukan bagaikan bintang. Bukan saja oleh sejawatnya sesama "chef" profesional di hotel itu, melainkan oleh tamu undangan.

Tidak sedikit di antara para tamu yang bergiliran minta foto bersama di atas panggung berlatar belakang gambar gadis Bali berpakaian tradisional mengusung sesajen menyusuri pantai.

Wajah mereka berbinar diselingi sorak tepuk tangan. Seorang sejawat bule yang sama-sama mengenakan seragam koki menyalami ketiganya seraya memberikan bingkisan istimewa.

Namun tidak seorang pun tahu bahwa beberapa menit sebelum festival yang dihadiri tamu dari berbagai negara, termasuk kalangan pebisnis lokal, ketiga juru masak tersebut diliputi ketegangan.

"Bagaimana tidak tegang. Saya baru tahu beberapa menit yang lalu bahwa acara ini juga dihadiri oleh Bapak Dubes (Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Soegeng Rahardjo)," kata Karyasa menuturkan.

Padahal, menurut dia, masakan yang disajikan belum sepenuhnya lengkap. Kalau yang hadir hanya tamu hotel, dia masih bisa memaklumi karena mereka tentu tidak banyak yang tahu tentang masakan Bali.

"Tapi karena yang datang Dubes dan tentu beberapa orang dari Indonesia, akan menjadi masalah kalau menu tidak lengkap," ujarnya menambahkan.

Yang makin membuat Karyasa, Billy, dan Sandy, diliputi kecemasan pada momen-momen menegangkan itu adalah minimnya ketersediaan bahan dan rempah-rempah oleh pihak Marriott di Beijing walaupun jauh-jauh hari sebelumnya sudah diinformasikan mengenai bahan yang mereka butuhkan.

"Daging yang disediakan dalam keadaan beku. Tentu butuh waktu sebelum bisa dimasak," ujar Karyasa yang menyiasatinya dengan memasukkan daging beku itu ke dalam oven agar bisa segera dimasak.

Demikian halnya dengan rempah-rempah yang memang di daratan Cina ini tidak selengkap di Tanah Air. Beruntung Karyasa telah mengantisipasinya dengan membawa bumbu lengkap dari Bali.

Ketiganya pun berbagi tugas. Karyasa menyiapkan hidangan utama khas Bali, seperti sate plecing, lawar ayam, babi guling, dan ayam betutu, sedangkan Sandy meracik beberapa bumbu pelengkap rasa.

Sementara itu, Billy menyiapkan makanan pembuka/penutup (desert), seperti klepon, rujak, gado-gado, dan aneka jajanan pasar lainnya.

Setelah rangkaian acara pembukaan usai, makanan tradisional Bali tersebut telah siap disajikan kepada para tamu hotel yang harap-harap cemas ingin segera mencicipinya.

Festival tersebut makin semarak dengan kehadiran bartender I Made Adi Wirawan. Pria yang sehari-hari bekerja di Hotel Courtyard, Seminyak, Kuta, itu diboyong Marriott Beijing untuk menyuguhkan racikan khasnya.

"Ternyata para tamu menyukai perpaduan rujak Jawa-tequilla," ujarnya mengenai racikan yang paling banyak disukai para tamu pada Jumat (10/3) malam itu.

Selain rujak Jawa-tequilla, Wirawan juga menyajikan minuman khas yang dinamainya "Bali Padua" yang merupakan kombinasi arak Bali dengan apperol.

"Mungkin karena cuaca di sini dingin sehingga mereka suka yang panas-panas begitu," kata pria yang sudah 12 tahun menekuni profesi sebagai bartender itu.

Selama berada di Beijing, baik Karyasa, Billy, Sandy, maupun Wirawan tidak hanya dituntut menyiapkan sajian khas Bali, melainkan juga menjadi "guru" bagi koki-koki atau bartender-bartender yang lain.

"Tentu kedatangan mereka di sini juga kami manfaatkan untuk belajar meracik berbagai minuman," kata John Wang, salah satu bartender Marriott Beijing, yang setia menjadi asisten Wirawan.

Meskipun menggunakan bahasa pengantar yang sangat terbatas karena Wang tidak mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris seperti kebanyakan warga Cina lainnya, Wirawan dengan sabar membimbing asisten barunya itu.

"Dia mengerti apa yang saya mau. Misalnya, mengambil tequilla jenis ini atau jenis itu. Dia bisa," ujar Wirawan yang serius mengamati asistennya itu melakukan eksperimen racikan minuman khas Bali.

Kedatangan mereka ke negeri Tirai Bambu bukan semata memenuhi tuntutan profesi, melainkan juga menjadi duta kuliner yang mempromosikan keanekaragaman masakan khas Nusantara.

"Dengan semakin dikenalnya tradisi dan kebudayaan Nusantara, diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegera," harap Soegeng Rahardjo.

Sumber : Antara