Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Nikotin Bukan Unsur Paling Berbahaya dari Merokok

Jumat 20 April 2018 19:07 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari

Larangan merokok

Larangan merokok

Foto: EPA
Tar merupakan suatu senyawa karsinogenik yang dapat menimbulkan kanker.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) mengungkap efek terburuk dalam sebatang rokok tembakau. Sebenarnya unsur paling berbahaya adalah tar, yaitu bentukan dari senyawa kimia berbahaya.

Ketua KABAR dan peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia Amaliya mengatakan, sebenarnya jika mengisap rokok maka yang merugikan tubuh dilihat dari sisi kesehatan adalah tar, bukan nikotin. "Efek terburuk di rokok adalah tar yang dibakar. Pembakaran apapun memang akan menghasilkan Tar seperti kertas," katanya, saat diskusi media bertema bagaimana mengatasi darurat asap rokok di Indonesia, Jumat (20/4).

Tar merupakan suatu senyawa karsinogenik yang dapat menimbulkan kanker. Ia menjelaskan, ada penelitian ketika perokok mengisap rokok tembakau maka mereka terpapar karsinogenik di permukaan pipi bagian dalam dibandingkan yang merokok elektrik atau vape dan yang tidak merokok.

Anggota Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI), Feni Fitriani Taufik, membenarkan Tar merupakan hasil dari pembakaran yang berisi bahan-bahan karsinogenik. "Jadi bukan nikotin yang berbahaya," katanya.

Sedangkan bedanya dengan Nikotin, kata dia, bisa menyebabkan orang jadi ingin terus merokok lagi dan lagi. "Jadi (orang yang merokok) adiktif," ujarnya.

Pada waktu rokok dinyalakan, kata dia, nikotin masuk ke otak. Kemudian benda itu memberikan hormon dopamin yang alami untuk membuat si perokok nyaman dan senang.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka prevalensi rokok di Indonesia naik 27 persen pada tahun 1995 menjadi 36,3 persen pada tahun 2013. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia mengalami darurat rokok.

Anggota KABAR dan pembina Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) Dimasz Jeremia menambahkan, berdasarkan pengamatan KABAR selama setahun terakhir, banyak perokok yang mulai sadar bahaya yang mengintai diri mereka jika tetap mengonsumsi rokok. Namun, berkaca dari pengalamannya sebagai perokok adiktif selama belasan tahun, Dimasz mengakui bahwa sangat sulit untuk berhenti merokok. Ia mengibaratkannya seperti menyusun proyek berjangka yang mana kita tidak bisa mendapatkan hasil instan dalam waktu cepat, karena susahnya bukan main.

"Ini saya alami sendiri ketika dulu saya mencoba untuk berhenti merokok. Saya sudah coba banyak cara, tapi tetap sangat sulit. Buat perokok adiktif mungkin tahu bagaimana rasanya, katanya.

Menurutnya, untuk dapat berhenti merokok harus ada langkah-langkahnya dan produk tembakau alternatif adalah salah satu langkah untuk mencapai tujuan dapat berhenti merokok. Ia menambahkan, keinginan para perokok untuk berhenti akan bisa berhasil jika mendapatkan dukungan dari banyak pihak, seperti orang terdekat.

Selain itu, produk tembakau alternatif yang telah terbukti lebih rendah risiko berdasarkan hasil penelitian juga bisa menjadi pilihan. Berdasarkan hasil studi dari Public Health England (PHE), produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dan rokok elektrik memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional. Produk ini berpotensi untuk menjadi solusi perokok untuk berhenti merokok.

Feni Fitriani Taufik mengatakan, produk tembakau alternatif bertujuan untuk membantu mengurangi biaya beban negara terhadap pengobatan masyarakat akibat rokok. "Ke depan, kami juga mendukung upaya pemerintah untuk mengatur dan mengawasi peredaran produk tembakau alternatif ini agar tepat sasaran," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES