Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Pentingnya Deteksi Dini Kanker pada Anak

Kamis 15 February 2018 05:41 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Gita Amanda

Sejumlah pasien kanker anak beraktivitas di salah satu Ruang Rawat Anak di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (10/10).

Sejumlah pasien kanker anak beraktivitas di salah satu Ruang Rawat Anak di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (10/10).

Foto: Antara
Kanker merupakan penyebab kematian kedua pada anak berusia lima hingga 14 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdasarkan data dari Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI), prevalensi anak-anak dengan kanker meningkat sebanyak tujuh persen setiap tahun. Selain itu, Kementerian Kesehatan menyebut, prevalensi kanker pada anak-anak sekitar dua persen dari semua kejadian kanker, dan kanker merupakan penyebab kematian kedua pada anak-anak berusia antara lima hingga 14 tahun.

Salah satu kanker yang paling umum terjadi pada anak-anak adalah leukimia, kemudian diikuti retinoblastoma, osteosarcoma, neuroblastoma, dan maligna limfoma. Jika pada orang dewasa, kanker kerap dikaitkan dengan gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok dan kurang berolahraga, namun pada anak-anak, gaya hidup bukanlah satu-satunya faktor pemicu kanker.

Kondisi ini pun membuat kanker pada anak-anak cukup sulit untuk dicegah. ''Inilah pentingnya deteksi dini, karena kanker pada anak sulit dicegah, bahkan gejalanya tak mudah dikenali. Orang tua harus sadar, mereka memiliki peran penting dalam deteksi dini secara berkala,'' ujar Ahli Onkologi dari Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam Hospitals Semanggi, Profesor Dr dr Moeslichan SpA (K).

Lebih lanjut, Moeslichan menjelaskan, orang tua dapat melakukan deteksi dini kanker pada anak dengan cara memeriksa keadaan seluruh tubuh anak. Misalnya, apakah ada benjolan tidak wajar di bagian tubuh anak. Selain itu, perlu diperhatikan apabila anak terlalu sering mengalami panas dan pucat, ataupun ada bintik-bintik dan pendarahan pada kulit.

''Waspadai juga nyeri tulang, anak-anak belum bisa mengkomunikasikan sakit ini. Sehingga dapat dipantau dari berkurangnya aktivitas fisik yang biasa mereka lakukan. Bila ada satu atau lebih dari gejala ini, maka segera tes darah dan telusuri lebih detail dan lengkap dari hasil tes darah tersebut,'' tutur Moeslichan.

Kementerian Kesehatan, melalui Direktorat Pengawasan dan Pengendalian Penyakit Non-Komunal, telah melakukan sosialisasi dan mendidik tentang deteksi dini kanker pada anak-anak. Sosialisasi ini dilakukan melalui ruang publik dan ruang pendidikan, seperti tempat pendidikan prasekolah, taman kanak-kanak, dan fasilitas kesehatan masyarakat.

Jika menilik data dari Komite Penanggulangan Kanker Nasional, tingkat kematian akibat kanker memang cukup tinggi. Bahkan, kanker telah membunuh lebih banyak dari penderita AIDS, Malaria, dan TBC. Sementara berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013 (Riskesdas) oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,4 persen atau diperkirakan sekitar 347.792 kasus.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES