Selasa, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 Februari 2018

Selasa, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 Februari 2018

Shift Malam Tingkatkan Risiko Diabetes, Ini Alasannya

Rabu 14 Februari 2018 14:10 WIB

Rep: Adysha Citra R/ Red: Indira Rezkisari

Pekerja shift malam.

Pekerja shift malam.

Foto: Pixabay
Bekerja shift malam meningkatkan risiko hingga 44 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jam kerja tak teratur atau kerap berganti shift membuat pekerja berisiko lebih besar terhadap diabetes tipe 2. Frekuensi bekerja shift malam dinilai menjadi kunci penentunya.

"Kami melihat hubungan dosis-respons antara frekuensi bekerja di shift malam dan diabetes tipe 2," ungkap peneliti sekaligus profesor dari University of Colorado-Boulder Ceiine Vetter, seperti dilansir Indian Express. Seperti dimuat dalam jurnal Diabetes Care, Vetter dan tim peneliti telah melakukan anasilis data terhadap lebih dari 270 ribu orang. Lebih dari enam ribu dari populari sampel tersebut menderita mengalami diabetes tipe 2. Dengan informasi mengenai lebih dari 100 variasi genetik yang berkaitan dengan diabetes tipe 2, tim peneliti mengembangkan skor risiko genetik yang kemudian digunakan untuk menilai para partisipan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang memiliki jam kerja tak teratur atau kerap berganti shift malam memiliki risiko 44 persen lebih besar untuk mengalami diabetes tipe 2. Secara umum, pekerja shift juga memiliki kemungkinan lebih besar mengalami diabetes tipe 2 dibandingkan pekerja yang berkegiatan di pagi hingga sore hari.

"Semakin sering orang-orang melakukan pekerjaan shift, semakin besar kemungkinan mereka untuk mengalami penyakit ini, terlepas dari predisposisi genetik," lanjut Vetter.

Di sisi lain, skor risiko genetik juga turut mempengaruhi seberapa besar kemungkinan pekerja mengalami diabtes tipe 2. Individu dengan skor risiko genetik tinggi juga memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk mengalami diabetes tipe 2 dibandingkan dengan individu yang memiliki skor risiko genetik rendah.

Diabetes tipe 2 merupakan kondisi kronis di mana tubuh tak bisa memproses glukosa dalam darah dengan semestinya. Diabetes tipe 2 yang tak ditangani dengan baik dapat menjadi faktor risiko dari beragam penyakit berbahaya lain, salah satunya penyakit kardiovaskular.

Pola hidup yang tidak baik merupakan salah satu penyebab tren diabetes tipe 2 meningkat di berbagai belahan dunia. World Health Organization (WHO) mengatakan prevalensi global untuk diabetes meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan pada 1980. Jika pada 1980 prevalensi diabetes adalah 4,7 persen, saat ini prevalensi diabetes pada populasi dewasa adalah 8,5 persen. Mayoritas kasus diabetes adalah diabetes tipe 2.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES