Rabu, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 Februari 2018

Rabu, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 Februari 2018

Kebotakan dan Beruban, Risiko Baru Penyakit Jantung

Rabu 17 Januari 2018 08:19 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Winda Destiana Putri

Pria yang mengalami kebotakan berisiko tinggi alami kanker prostat.

Pria yang mengalami kebotakan berisiko tinggi alami kanker prostat.

Foto: wikimedia

REPUBLIKA.CO.ID, Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, obesitas hingga kebiasaan merokok dan pola hidup sedentari merupakan beberapa faktor risiko penyakit jantung yang sudah cukup dikenal. Namun, ada dua faktor risiko penyakit jantung lain yang jarang diketahui, yaitu pola kebotakan pada pria dan rambut beruban yang terjadi lebih cepat.

"Kejadian penyakit arteri koroner pada laki-laki muda meningkat tetapi tidak bisa dijelaskan dengan faktor risiko tradisional (yang sudah umum diketahui)," ujar salah satu peneliti dari UN Mehta Institute of Cardiology and Research Center Dr Sachin Patil seperti dilansir Medical News Today.

 

Dua faktor risiko penyakit jantung yang tak biasa ini diungkapkan oleh tim peneliti asal India dalam Konferensi Tahunan Cardiological Society of India ke-69 di Kolkata, India. Dua faktor risiko tak biasa ini diketahui setelah tim peneliti melakukan investigsi terhadap 790 laki-laki berusia di bawah 40 tahun yang menderita penyakit arteri koroner. Tim peneliti juga melibatkan 1.270 laki-laki lain dari kelompok usia yang sama sebagai kelompok pembanding.

 

Selama investigasi, tim peneliti melakukan beberapa tes terhadap para peserta. Beberapa tes yang dilakukan meliputi tes elektrokardiogram, ekokardiogram, tes darah serta aniogram koroner.

 

Pola kebotakan pada pria juga dievaluasi dengan melakukan penilaian dengan skor 0 (tak ada kebotakan), 1 (ringan), 2 (sedang) dan 3 (berat). Penilaian diberikan setelah peserta menjalani analisa kulit kepala sebanyak 24 kali. Persentase rambut putih atau uban ditentukan melalui pemberian 'skor rambut memutih'. Tak lupa, tim peneliti juga memeriksa lesi aniografi yang merupakan penanda dari penyakit arteri koroner.

 

Tim peneliti lalu menganalisa hubungan antara kebotakan, rambut beruban dan keparahan lesi aniografi terhadap kelompok laki-laki penderita penyakit jantung dan juga kelompok pembanding, Hasil menunjukkan bahwa sekitar 50 persen dari peserta dengan penyakit jantung koroner memiliki rambut beruban dan 49 persen dari kelompok tersebut juga memiliki pola kebotakan. Persentase ini lebih rendah dibandingkan dengan kasus rambut beruban dan kebotakan pada kelompok pembanding.

 

Temuan ini menunjukkan bahwa pola kebotakan pada laki-laki berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit koroner arteri hingga 5,6 kali lipat. Rambut memutih atau uban yang terjadi lebih cepat dari seharusnya juga berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit arteri koroner hingga 5,3 kali lipat.

 

Peningkatan risiko ini terlihat lebih besar dibandingkan faktor-faktor risiko lain. Sebagai contoh, faktor risiko obesitas meningkatkan risiko penyakit jantung sekitar empat kali lipat.

 

Bukan tanpa alasan jika tim peneliti berfokus pada kebotakan dan uban dalam meneliti risiko penyakit jantung pada kelompok laki-laki muda. Tim peneliti mengatakan bahwa rambut beruban dini serta pola kebotakan pada laki-laki berkaitan dengan usia vaskular terlepas dari usia kronologis.

 

"(Keduanya) merupakan faktor risiko yang masuk akal untuk penyakit arteri koroner," jelas Patil.

 

Ketua peneliti sekaligus associate professor dari Departemen Kardiologi UN Mehta Institute of Cardiology and Research Centre Dr Kamal Sharma juga mengungkapkan hal serupa. Sharma mengatakan bahwa kebotakan dan rambut beruban dini mengindikasikan usia biologis yang penting dalam menentukan risiko total dari penyakit kardiovaskular, dalam hal ini penyakit jantung.

 

"Penelitian kami menemukan adanya keterkaitan, tapi hubungan sebab-akibat perlu dibuktikan sebelum statin dapat direkomendasikan untuk laki-laki dengan kebotakan atau rambut memutih dini," terang residen kardiologi senior dari UN Mehta Institute of Cardiology and Research Center Dr Dhamdeep Humane.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA