Rabu , 15 November 2017, 14:18 WIB

Kata-Kata Ini Bisa Jadi Ciri Stres

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Yudha Manggala P Putra
ABC
Sejumlah isu menjadi beban bagi mahasiswa di Australia sehingga tingkat stressnya menjadi lebih tinggi.
Sejumlah isu menjadi beban bagi mahasiswa di Australia sehingga tingkat stressnya menjadi lebih tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jika seseorang berpikir bahwa dia dapat menjaga emosi, penelitian baru menunjukan bahwa bahasa dapat sebagai ungkapan jika seseorang terkena stres.

Menurut sebuah studi di Universitas Arizona, orang yang terkena stres cenderung sering menggunakan kata-kata adverbia seperti 'begitu', 'sangat', dan 'benar-benar' ketika sedang berbicara di depan umum.

Peneliti juga mengidentifikasi bahwa orang yang sedang stres akan lebih banyak berdiam ketika berbicara, dibandingkan dengan mereka yang tidak merasa mendapat tekanan. Untuk penelitian tersebut, mereka menganalisis pola bicara 143 sukarelawan yang setuju untuk memakai perekam audio selama dua hari.

Alat rekam ini diaktifkan dan merekam apa yang dikatakan relawan pada jarak waktu acak. Para peneliti kemudian mentranskripsikan rekaman dan menganalisis pola kata yang digunakan dalam kaitannya dengan perubahan ekspresi gen yang berkaitan dengan stres.

Istilah 'ekspresi gen' ini mengacu pada proses dimana informasi yang terkandung dalam gen digunakan dan diekspresikan agar bermanfaat bagi tubuh. Ekspresi gen berubah ketika merespons stres.

Studi ini juga mengidentifikasi bahwa orang cenderung kurang menggunakan kata ganti jamak orang ketiga seperti 'mereka' ketika mereka merasa stres. Peneliti berpendapat bahwa hal tersebut dikarenakan relawan tersebut tidak terlalu memikirkan orang lain ketika mereka berada dibawah tekanan secara pribadi.

Mereka menambahkan perubahan ekspresi bahasa dan gen secara signifikan memberikan indikator yang akurat, dimana ketika seseorang merasa stres peneliti hanya meminta mereka untuk melaporkan emosi stres, depresi dan kegelisahan diri sendiri.

"Bahasa mencerminkan bagaimana orang terhubung dengan dunia mereka, tapi siapa yang mengira bahwa ekspresi gen akan terkait dengan bahasa?" kata psikolog di Universitas Texas, Austin, James Pennevaker seperti dilansir pada laman Huffingpost. "Ini cara berpikir baru yang menarik."