Rabu , 15 November 2017, 04:11 WIB

Menghabiskan Waktu dengan Ortu Bermanfaat Bagi Kesehatan

Rep: Dea A Soraya/ Red: Indira Rezkisari
EPA
Warga usia lanjut berjalan menikmati bunga sakura yang mekar. Menghabiskan waktu dengan orang tua sanggup memberi warna bagi kehidupan mereka dan bermanfaat bagi kesehatannya.
Warga usia lanjut berjalan menikmati bunga sakura yang mekar. Menghabiskan waktu dengan orang tua sanggup memberi warna bagi kehidupan mereka dan bermanfaat bagi kesehatannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kadang kala, keinginan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama teman adalah salah satu hal baik untuk menghilangkan kejenuhan setelah seharian beraktivitas. Namun menghabiskan waktu bersama orang tua, ternyata dapat lebih bermanfaat.

Sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Kalifornia menyatakan bahwa menghabiskan waktu bersama orang tua yang telah memiliki usia lanjut, dapat membantu memanjangkan usia mereka. Penelitian yang melibatkan sekitar 1.604 lansia dengan usia rata-rata 71 tahun ini menemukan bahwa penyebab utama penurunan kesehatan adalah kesepian.

Seluruh koresponden dalam penelitian tersebut diberikan pertanyaan yang sama, yaitu apakah mereka merasa ditinggalkan? Apakah mereka merasa terisolasi? Dan Apakah mereka memiliki kekurangan perhatian atau hubungan dengan keluarga?

Hasil yang didapatkan adalah 43 persen koresponden mengaku merasa kesepian, dan hanya 14 persen yang mengaku memiliki hubungan yang cukup baik dengan orang lain. Namun yang lebih memprihatinkan adalah, 23 persen dari koresponden tersebut meninggal dunia setelah enam tahun dilakukannya penelitian.

Penelitian itu menemukan bahwa kesepian dapat menyebabkan serangkaian masalah kesehatan termasuk kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat berhadapan dengan permasalahan serius, atau menurunnya fungsi penglihatan sehingga sulit saat berjalan atau menaiki anak tangga yang kerap dialami para lanjut usia (lansia).

Dalam sebuah wawancara bersama New York Times, seorang pekerja dalam bidang sosial Barbara Moscowitz mengatakan, orang lansia cenderung menempatkan penekanan lebih besar pada suatu hubungan daripada orang yang lebih muda. Dia juga menempatkan hubungan dengan orang-orang yang dicintainya dan dapat memberikan warna dalam kehidupannya sebagai suatu kebutuhan utama.

Namun banyak orang yang tidak menyadari kebutuhan tersebut, terutama anak dan cucu yang belum dapat memahai makna pengembangan hubungan yang benar dan berkelanjutan, seperti toleransi. Psikolog Stanford University, Laura Carstensen menyebutnya sebagai 'socioemotional selectivity'.

Selain itu, seorang profesor bidang perkembangan manusia dari Virginia Tech Rosemary Blieszner mengatakan, jika dibandingkan dengan orang berusia muda, orang berusia lanjut lebih menghargai arti sebuah toleransi terhadap ketidaksempurnaan atau keistimewaan orang-orang sekitarnya. Hal itu dikarenakan banyaknya pengalaman dan hubungan persahabatan yang telah mereka lalui.

Ini menunjukkan bahwa dengan meluangkan waktu lebih banyak dengan orang tua kita sangat diperlukan untuk menekan tingkat kesepian yang mereka rasakan. Selain itu, memperbanyak interaksi juga dapat membuat orang tua lebih lama bertahan hidup, dibandingkan mereka yang hidup dalam kesendirian.

Dengan adanya penemuan ini, kemungkinan untuk merubah fokus perawatan dengan meningkatkan hubungan dokter dan pasien juga dapat dilakukan. Upaya untuk mengidentifikasi tingkat kesepian seseorang dianggap lebih efektif untuk mencegah terjadinya penurunan kesehatan atau kelumpuhan organ bagi orang tua kita, dilansir dari Indy100.