Rabu , 18 Oktober 2017, 13:39 WIB

Donor Darah dari Wanita Lebih Berisiko Bagi Pria

Rep: Rossi Handayani/ Red: Indira Rezkisari
Republika/Edi Yusuf
Donor darah.
Donor darah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian baru menemukan bahwa pria memiliki tingkat kematian jauh lebih tinggi, setelah menerima transfusi darah menggunakan donor darah wanita yang telah hamil. Namun, tidak ada yang mengetahui mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Pria yang menerima darah donor dari wanita yang telah hamil memiliki tingkat kematian lebih tinggi secara signifikan, dibandingkan dengan mereka yang menerima darah dari pria lain, atau wanita yang tidak pernah hamil, penelitian tersebut menemukan.

Untuk pria di bawah 50, tingkat itu 1,5 kali lebih banyak dalam tiga tahun setelah transfusi. Penyebab kematian yang paling mungkin adalah respons kekebalan yang merugikan berupa cedera paru akut akibat transfusi, peningkatan risiko yang sebelumnya dikaitkan dengan donor wanita.

Studi yang didanai oleh Kementerian Kesehatan, Kesejahteraan dan Olahraga Belanda tersebut, melibatkan 31.118 pasien yang pernah menerima 59.320 transfusi sel darah merah di Belanda, antara 2005 dan 2015. Donor berada dalam tiga kategori yaitu donor laki-laki, donor perempuan yang tidak pernah hamil, dan donor perempuan yang telah hamil. Masing-masing 88 persen, 6 persen dan 6 persen dari donor.

Angka kematian pasien adalah 3.939 orang atau 13 persen. Dan dari jumlah itu, secara statistik kelompok terbesar adalah pria yang telah menerima darah dari pendonor yang pernah hamil.

"Di antara pasien yang menerima transfusi sel darah merah, penerimaan transfusi dari donor wanita yang pernah hamil, dibandingkan dengan donor laki-laki, dikaitkan dengan peningkatan kematian di antara penerima laki-laki tetapi tidak di antara penerima wanita," sebut para peneliti, dilansir dari laman Science Alert, Rabu (18/10).

"Transfusi dari donor wanita yang tidak pernah hamil tidak dikaitkan dengan peningkatan angka kematian di antara penerima laki-laki atau perempuan," lanjut pernyataan tersebut.

Angka kematian untuk pria yang menerima darah merah dari donor yang pernah hamil adalah 101 kematian per 1.000 orang per tahun. Bandingkan dengan 80 kematian untuk donor laki-laki, dan 78 kematian untuk mereka yang menerima donor dari wanita yang tidak pernah hamil.

Sementara penelitian menunjukkan korelasi, tidak menjelaskan mengapa darah dari wanita hamil sebelumnya memiliki efek seperti itu. Para peneliti melakukan hipotesis bahwa, kemungkinan mekanisme berdasarkan perubahan imunologis yang terjadi selama kehamilan.