Jumat , 13 October 2017, 19:08 WIB

Asuhan Paliatif Dapat Diterapkan Sejak Diagnosis Awal

Rep: Dessy Susilawati/ Red: Yudha Manggala P Putra
ABC
Ilustrasi.
Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter Spesialis Onkologi Anak dari RS Kanker Dharmais dr Edi Setiawan Tehuteru mengatakan, saat ini asuhan paliatif masih kerap dikesankan dengan metode perawatan jelang masa akhir kehidupan seseorang. Padahal menurut definisi Badan Kesehatan Dunia (WHO), paliatif, tidak seperti itu.

"Tapi sejak pasien di diagnosis terkena penyakit berat, paliatif sudah berperan. Dimulai sejak didiagnonis. Tidak selamanya di masa akhir kehidupan," ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (13/10).

Misalnya, anak yang menderita kanker stadium satu, dia memiliki peluang hidup 80 persen. Dia juga mendapatkan pengobatan dan tata laksana lain yang pada dasarnya merupakan bagian dari asuhan paliatif. "Jangan negatif dulu kalau paliatif itu di akhir masa kehidupan anak," ujarnya.

Dalam asuhan paliatif, ada dua hal yang bisa dipelajari. Salah satunya mempersiapkan pasien di jelang akhir kehidupan dengan memberikan dukungan psikososial dan spiritual. Yang kedua adalah penanganan gejala yang dilakukan oleh tim medis.

Gejala paling banyak pasien kanker adalah nyeri. Nah untuk menghilangkan nyeri itu, biasanya menggunakan morfin. Namun penggunaan morfin masih sangat rendah. "Sekarang pemerintah memang sedang gencar berantas narkoba. Indonesia darurat narkoba. Tapi diinstruksikan untuk meningkatkan penggunaan morfin untuk dunia medis di Indonesia untuk menghilangkan nyeri kanker," jelasnya.

Ia mengungkapkan skala nyeri 0 sampai 10 nyeri, itu nyerinya bisa sampai 10, yang berarti sakit sekali. Salah satu cara menghilangkan nyeri ini adalah obat morfin.